pathway0211Kawan, andai kau terdampar pada suatu waktu yang ganjil, terasing dan sunyi, saya akan menuntunmu. Melangkah pelan menyusuri jalan setapak ini, yang ditumbuhi bunga ilalang liar di kanan kirinya. Sambil menikmati semilir angin yang lirih membelai-belai ujung rambutmu.

Mungkin langkahku, tak menyingkirkan dekapan keganjilan yang menggayutimu. Tapi, saya akan menemanimu menikmati bunga ilalang liar itu, melihatnya menari meliuk – liuk bersama lambaian angin. Indah di bawah bentangan langit yang masih membiru.

Kawan, semilir angin itu begitu lembut menyapamu.

Di antara kebisingan riuhnya musik politik, aku ingin menyepi sunyi dengan irama alam dan kedamaian. Biarkan saja mereka menabur seribu janji dan segudang kata-kata manis, aku tidak akan kepincut dibuatnya.

Kita tau siapa mereka, dan mereka tau siapa kita. Kita sudah saling mengenal dalam duka dan ketidakpedulian.

Suara kita manis di dengar hari-hari ini saja, ketika mereka butuh pundi-pundi suara untuk menghimpun tahtanya. Begitu mereka naik tahta, himpunan suara kita roboh tak mereka hiraukan.

Kita mengenal mereka selama ini…

Aku masih percaya, Kawan
Bahwa di antara gelapnya malam, masih ada bintang gemintang yang menaburi malam dengan pesona kerlipnya

Diantara keruhnya sungai, masih ada embun bening yang terselip dipucuk rerumputan
Masih ada pesona harapan, walaupun cuma setitik

Begitupun dengan gelapnya aura politik yang menyelimuti kehidupan kita,
Buramnya ribuan calon anggota legislatif yang belum kita ketahui jejak rekamnya
Samarnya tujuan puluhan partai politik yang berkibaran di langit Indonesia
Semuanya serba buram, gelap dan samar

Aku masih percaya, Kawan
Diantara semua keburaman dan kegelapan itu, masih ada setitik harapan yang tersisa
Peliharalah setitik harapan itu,
Biarkan nyala kerlipnya menerangi semua kegelapan itu

Masih ada cahaya itu, Kawan
Pilihlah dengan nurani yang bening, di tanggal 9 April 2009 nanti
Masih ada waktu beberapa hari, untuk mencari setitik harapan itu

Semoga 5 detik di dalam bilik nurani,
bisa menyuburkan harapan yang setitik itu

Pemuda itu tertunduk lesu

“…Garis asmara memang tidak mempertemukan kita di titik temu, tetapi garis kerinduan ini akan mengiringi setiap langkahmu…”

Dia menyaksikan sang dara pujaan, berjalan beriringan di altar suci, dengan gaun putih nan anggun, berjalan mesra dengan pangeran tampan yang membimbingnya menuju singgasana megah penuh mawar merah nan indah

Asmara memang tidak bisa dipastikan langkah akhirnya, Kawan
Tidak bisa dibujuk untuk memihaknya, tidak bisa dipaksa merangkul keduanya
Biarlah asmara akan senantiasa menjadi misteri sang waktu

Biarlah senyumnya yang indah merekah ditimpa hangatnya mentari pagi, tetap akan menjadi bayang-bayang mimpi sang pemuda
Biarlah langkah bahagia mengiri senandung cinta sang dara dan pangeran tampannya…

Biarlah senantiasa tetap menjadi misteri

Situ Gintung, danau seluas 21 hektare dengan kedalaman rata-rata sekitar 4 meter dan mampu menampung air sekitar 1 juta meter kubik itu, pada mulanya adalah bendungan kecil yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1932 dan selesai 1933 .

Setelah 76 tahun lebih menahan berat beban, Jumat 27 Maret 2009 bendungan itu pun ambrol. Menghanyutkan kabar duka puluhan jiwa.

Lantas terhenyaklah semuanya. Berteriak-teriak menyalahkan alam dan musibah. Memang, bukan manusia yang menentukan arah nasib dan mengira letaknya. Kita juga tidak kuasa untuk menolaknya. Tapi, kita punya kuasa untuk mengantisipasi agar tidak menjadi musibah.

Bayangkan…sejak 2 tahun belakangan ini masyarakat sekitar tanggul sudah khawatir, tetapi kekhawatiran itu kurang mendapat respon dari Pemerintah. Padahal pada Nopember 2008 lalu tanggul Situ Gintung pernah jebol walau belum parah. Anehnya, Pemerintah setempat belum berbuat secukupnya untuk mengatasinya. Bahkan early warning system (sistem peringatan dini) pun belum dibuat.

Contoh kasus lain, jalanan umum yang berlobang-lobang dan sering menyebabkan celaka, masih saja dibiarkan menganga. Kenapa semua ini masih saja berlangsung, kasat mata tanpa ada antisipasi ? Menunggu petaka kembali terulang, kah?

Jangan kambing hitamkan alam, kalau musibah menimpa. Karena alam sudah memberikan pertanda, dan kita cuma diam tanpa usaha. Kita hanya sibuk menyalahkan alam, setelah semua itu terjadi.

Berulang-ulang kejadian ini terjadi di seputar kita. Seperti memutar rekaman buram dan kita terus menikmatinya.
Kawan, antisipasilah sebelum alam menagih pertandanya.

Siang bolong yang amat terik. Sebenarnya saya malas untuk mencoba mengintip kegiatan kampanye sebuah partai di panggung terbuka. Namun, rasanya kurang berdasar kalau kita menilai sesuatu, hanya dari sudut pandang sempit yang penuh apriori.
Akhirnya, saya mencoba mengintip acara kampanye itu, untuk mengubur apriori sudut pandang saya, tentang kampanye selama ini. Dan mencoba menikmati rasa demokrasi di negeri ini.

Acara kampanye itu berlangsung di lapangan terbuka, kebetulan tak jauh dari rumah saya. Saya mencoba mengintip setiap kegiatan yang berlaku selama kampanye itu berlangsung, dari sebuah warung es cendol tak jauh dari arena lokasi kampanye.

Seperti kegiatan kampanye yang biasa aku saksikan di layar televise, kampanye itu berlangsung di lapangan terbuka, di panggang panas matahari yang terik di siang bolong.

Dengan berkonvoi, pendukung partai datang ke lokasi lengkap dengan bendera, kaos, atribut dan umbul-umbul. Mereka mengendarai sepeda motor tanpa mengenakan helm, mengerahkan massa naik kendaraan terbuka melebihi kapasitas, dan seenaknya menguasai jalan raya. Peserta kampanye seolah tak peduli bahwa tingkahnya membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka juga tak mau tahu pengguna jalan lain mengumpat karena lalu lintas jadi macet, para pekerja tak bisa pergi ke tempat kerja dengan cepat, atau kuping mereka pekak mendengar deru sepeda motor.

Ternyata, suasana kampanye yang tergambar di layar televisi, sama persis dengan yang saya nikmati saat ini, di depan mataku. Rasa aprioriku makin kambuh, di siang yang terik ini.
Untung es cendol yang saya nikmati, menyegarkan tenggorokan dan suasana. Dan saya kembali mencoba membunuh rasa aprioriku, dengan tetap mencoba menikmati nuansa kampanye ini dan segelas es cendol.
“Anggap saja, ini bunga-bunga kampanye” hiburku dalam hati.

Di atas panggung, mulailah para calon anggota legeslatif berteriak-teriak menaburkan janji-janji manisnya. Kata-kata kesejahteraan, perubahan, perbaikan, kemakmuran dan lain-lain berlompatan keluar dari mulutnya.
Tapi di bawah panggung yang terik itu, massa pendukung partai seakan tidak acuh, dengan segala janji manis itu, mereka malah berteriak-teriak : “Musik lagi…goyang lagi! Musik lagi…goyang lagi…”
“Oke, pilihlah saya…dan nikmati lagu dangdut yang satu ini…” kata anggota Caleg itu

Praktis, tidak dapat saya ketahui program dan platform partai beserta calegnya pada kampanye di siang yang terik itu. Yang saya dengar cuma musik dangdut dan janji-janji. Selebihnya dipenuhi goyangan penyanyi dangdut dengan memakai baju ketat yang bisa membunuh sistem pernafasannya itu. Kampanye yang saya saksikan siang ini, tak ubahnya pertunjukan musik dangdut hajatan sunat di kampungku dulu.

Sebelum rasa aprioriku makin akut dan membunuhku, saya tinggalkan arena kampanye itu.

Kawan, aku cuplik berita ini dari http://regional.kompas.com

Sejumlah partai politik di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menolak menandatangani kesepakatan kampanye damai. Mereka beralasan, masih banyak partai yang datang dengan massa besar melebihi jumlah yang disepakati, 10 sepeda motor dan dua mobil, pada hari pertama rapat umum hari ini.

Kalau sebuah partai, tidak bisa mengendalikan massa-nya, bagaimana mau mengendalikan negeri ini?

Atau peristiwa ini :
Pada saat penandatanganan deklarasi kampanye damai yang dilakukan oleh pimpinan parpol di atas panggung di Hall D2 kompleks Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran, Jakarta, siang Senin, 16/3/2009, massa berbagai partai yang hadir dalam deklarasi ini merangsek ke atas panggung sambil mengibar-ngibarkan bendera partai dan meneriakkan yel-yelnya.

Di mana wibawa pemimpin partai yang bermimpi memimpin negeri ini?
Bangunlah dulu parpol yang santun dan beretika, sebelum bermimpi membangun negeri ini.

Fattah Abyasa,
Hari ini genap 2 tahun engkau menikmati sinar mentari yang hangat, menguapkan tetesan embun dipucuk pohon salam, mengenal kicau burung yang hinggap di dahannya, melihat pesona warna kupu-kupu yang terbang kesana-kemari bersama teman-temanya.

copy-of-dsc00588Hari ini, 2 tahun engkau pernah merasakan asinnya air laut, lembutnya pasir pantai yang putih, birunya langit yang menggaris ujung lautan, dan awan-awan putih yang memulas cerahnya angkasa. Atau terlelap oleh buaian lembut angin pantai.

Engkau pernah saksikan juga, bulan dan gemintang di malam hari, bertaburan amat indah di pekatnya jagat raya.

Dedaunan hutan yang lebat menghijau, bukit-bukit yang menyendiri kesepian.
Semuanya sudah pernah engkau nikmati hingga hari ini, 2 tahun kehadiranmu.

Semoga semuanya, bisa menjadikanmu sadar dan mengerti akan arti kehadiranmu di muka bumi ini. Dan melangkahlah dengan sepenuh jiwa, Nak…

Ficus benjamina,
Itulah nama latin pohon beringin, pohon yang berbatang tegak bulat dengan permukaan kasar, coklat kehitaman dengan akar menggantung dari batang.

Dan inilah sepenggal kisah kenangan tentang pohon yang mempunyai bunga tunggal, menyembul keluar dari ketiak daun berkelopak bentuk corong berwarna kuning kehijauan, sewaktu kecil dulu di kampung halaman.

Dulu, di kampungku ada sebatang pohon beringin tua. Tempat kami teman sepermainan, biasa menghabiskan waktu. Bercanda bersama, main layang-layang, berkelahi, main petak umpet, menggembala kerbau, dan tidur bersama di antara naungan rimbunan daun tunggalnya yang lonjong, hijau, dengan panjang 3 – 6 cm, bertepi rata, letak bersilang berhadapan.

Atau main tembak-tembakan dengan peluru mainan dari buahnya yang bulat kecil, panjang 0.5 – 1 cm.

Waktu seakan berhenti melompat, waktu kami bermain di bawahnya, begitu teduh, adem dan nyaman. Tapi temanku Joko, ketakutan setengah mati kalau ditinggal sendirian di situ, dia bisa terkencing-kencing di celana.
“Bentuknya seram, angker…tempat jin, hantu, dedemit, beranak pinak…” kata Joko ketika itu.

Entah benar entah tidak omongan Joko, yang jelas di kampungku dulu para orang tua juga begitu percaya akan tuah dan keangkeran pohon beringin tua itu. Karena tiap malam Jum’at ada saja orang yang menaruh sesajen dan dupa di bawah pohonnya yang begitu kuat mencengkram tanah dan bebatuan.

Tapi justru, aneka sesajen itu yang menjadi santapan lezat ketika kami bermain-main keesokan harinya. Walaupun dalam hati, kami takut kualat untuk memakan aneka sajen itu.

Hingga suatu saat, pohon renta itu nyaris tumbang diseruduk oleh kerbau gila Katmo, yang sedang berahi dan lepas dari kendali angonan. Untung akar-akarnya yang amat kuat mencengkram tanah, bisa menopang tubuhnya yang rimbun. Hanya kerbau Katmo yang kepalanya berdarah-darah dan sempoyongan, dan setelah itu cacat.

Kami sempat khawatir ketika itu, takut kalau-kalau kami tidak ada lagi tempat berteduh dan bermain. Sedangkan Joko, takut kalau demit-demit penunggu pohon renta itu akan ngamuk, berkeliaran dan menghancurkan kampung kami.

Sampai sekarang, pohon renta itu masih berdiri di kampung kami. Walaupun dengan tubuh agak pincang, condong ke kanan, bekas serudukan kerbau gila si Katmo. Setidaknya, kami masih bisa mengingat semua kenangan itu.

Kenangan yang manis dan pahit. Bercanda bersama, main layang-layang, berkelahi, main petak umpet, menggembala kerbau, dan tidur bersama. Joko juga masih mengingat demit-demit yang masih bercokol dan beranak-pinak di sana.

Seorang pengusaha sukses, menolak mati-matian peraturan yang menaikkan upah minimum buruh.
“Kenaikan upah minimum itu sangat memberatkan kami…” katanya berapi-api, sambil telunjuk tangan kanannya yang dilingkari cincin emas murni bertahtakan batu merah delima berharga ratusan juta rupiah, menunjuk udara.
“Kalau upah buruh dinaikkan, kita bisa bangkrut…” lanjutnya, sambil tangan kirinya yang bergelang emas puluhan gram, membetulkan letak dasinya yang bermerk terkenal.


Sementara di rumah kontrakan yang sempit berdinding triplek yang sudah lapuk, Sarinah tengah menghangatkan nasi sisa kemarin untuk sarapan paginya dengan sepotong ikan asin dan tempe goreng sebagai bumbu lauknya.


“Kita sedang dilanda krisis global, tolong jangan beratkan pengusaha dengan peraturan-peraturan yang tidak probisnis…” pengusaha sukses itu masih berapi-api, sambil mengencangkan ikat pinggang kulit yang dibelinya waktu plesiran ke Roma, Italia.


Entahlah Kawan…Para buruh, tidak pernah memikirkan krisis global, probisnis, atau segala aturan-aturan yang dia tak mengerti, yang dia pikirkan hanyalah upah yang dia terima dari pabriknya amat tidak sepadan dengan kebutuhan hidup paling minimum sekalipun.


“kalau kita ditekan terus, kita bisa melarikan investasi kita keluar negeri…” ancam sang pengusaha itu masih berapi-api, sambil merapihkan rambutnya yang baru saja digunting di salon terkenal, di sebuah mall megah.


Lihatlah, segala yang menghiasi tubuh sang pengusaha sukses terkenal itu, kalau dinominalkan sudah cukup untuk membiayai hidup Sarinah selama puluhan tahun. Tapi tetap saja, dia menolak mati-matian secuil tambahan upah untuk mencukupi hidup buruhnya, yang telah membuatnya bisa plesir ke Roma, bisa shoping ke Hongkong, bisa makan siang di Dubai, bisa bersin di Hawaii, bisa menanam bangkai ikan arwana di halaman apartemen mewahnya di Singapura.


Yang dituntut para buruh pun bukan plesiran mewah ke Roma seperti boss besarnya, yang dia butuhkan cuma upah yang layak sebagai simpul penyambung hidup supaya tidak putus, bukan untuk  menghiasi hidup dengan kemewahan dan kemegahan.


Tidak bisakah menyisihkan sedikit gaya hidup mewahmu, untuk secuil lauk buruhmu yang layak, Pak Boss?

Seperti layaknya bocah 9 tahun, Mohammad Ponari bermain di bawah guyuran air hujan ketika petir menyambar-nyambar di atasnya. Saat itulah tanpa sengaja dia menemukan batu sebesar kepalan tangan, berwarna kehitaman.

Dan kemudian, sang nasib membawanya bersama sang batu menjadi bocah yang tidak biasa. Rumahnya di dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timar yang biasa sepi mendadak dijejali puluhan ribu pasien yang saling desak mendesak mengantri untuk mendapatkan tuah batu saktinya.

Bahkan, bukan kesembuhan yang didapat dari batu itu malah maut menjemput 4 korban dalam desakan tersebut.

Indonesia pun dibuat geger oleh bocah kelas 3 SD itu. Hampir tiap hari, berita tentang Ponari dan batunya menjadi headline media cetak dan elektronik. Berebut halaman utama dengan berita perseteruan tokoh politik, persaingan calon presiden, pelanggaran kampanye, bencana banjir, longsor dan berita nasional lainnya.

Kalau kita hidup lama dan dengan terbiasa menghirup aroma tidak masuk akal di negeri ini, hal itu bukan merupakan fenomena yang luar biasa. Hampir setiap hari, sepanjang tahun semenjak kita kecil hingga menuju tua, seringkali masyarakat mengagungkan hal-hal yang memang tidak masuk akal itu. Hampir di seluruh pelosok negeri ini, aroma dupa luar nalar itu memasuki rongga-rongga kehidupan kita, dengan aneka wujud yang serupa walau tak sama.

untitled4Mengagungkan keris, mengkeramatkan batu, mendewakan pohon, mengkultuskan seseorang, bahkan mentuahkan – maaf – kotoran kerbau. Itulah budaya yang berkembang di masyarakat kita sejak jaman dahulu kala. Jadi bukan hal yang luar biasa kalau batu Ponari dicari ribuan orang di Indonesia, untuk menyembuhkan segala bentuk penyakit.
Dan jangan tanya kenapa, karena hal tersebut sudah tercium aromanya sejak jaman dulu kala, yang hingga saat ini tidak juga sirna.

Justru yang menjadi fenomena luar biasa, ketika orang di negeri ini bisa menganalisa masalah dengan ketajaman ilmiah dan kecerdasan nalar berdasarkan logika yang masuk akal. Tapi justru, hal yang masuk akal ini sepi peminat bahkan dicampakkan jauh-jauh.

“Males, njelimet, pusing, tidak menarik…” gerutu seseorang sambil berlalu dengan acuhnya.

Tapi coba, dengan hanya mencelupkan sebuah batu aneh ke dalam gelas dan meminumnya, orang akan berbondong-bondong menyerbunya, walau nyawa digadaikannya.

“Simple, tidak perlu mikir dan tidak perlu pusing-pusing…”