Dibilang Jawa, kagok. Dibilang Sunda, mentok. Itulah Cirebon, Kawan.
Tanah kelahiranku, tempat aku tumbuh dan mekar. Dengan logat bahasa yang terkucil terhimpit antara bahasa Jawa dan Sunda. Mengakibatkan munculnya percikan bahasa tersendiri. Unik, menarik dan menurut sebagian orang ngapak dan aneh. Bagiku, itulah citrarasa tersendiri, selera Cirebonan. Tidak akan aku nikmati di tempat belahan dunia lain, bahkan di ujung dunia.
Kalau ingin menikmati khas nikmatnya Basa Cirebonan, jangan di pusat kota Cirebon Kawan. Di pusat kota, Basa Cirebonan sudah pudar dan bias, tergusur oleh bahasa orang kota, Bahasa Indonesia. Terpinggirkan tanpa daya oleh gengsi metropolis dan gemerlap kota. Pudar oleh silau gaya hidup kota. Setidaknya itulah yang aku rasakan Kawan. Basa Cirebonan menyepi sunyi, keluh dan lemas, ndlongop melompong oleh istilah ‘elo, gue, ya iyalah, ya iya dong…dan bla..bla..bla..cas..cis..cus..
Kalau ingin menikmati sungguh citrarasa unik itu, jalan – jalanlah ke pinggiran desa kabupaten. Reguklah seperti menikmati wedang bandrek, nikmati renyah dan gurihnya laksana mencicipi rengginang yang masih hangat, dan hirup aromanya dalam – dalam seperti menghirup uap teh tubruk di pagi hari.
Di pinggiran sawah, akan kamu jumpai orang memaki hangat karib dekatnya, ‘kirik ente mendi bae jeh ..?’, atau pemuda kampung menggoda seorang gadis dengan trik kampungnya, seperti Baridin menggoda Suratminah ‘senok, sira ayu temen kaya’ widadari..’.
Kamu akan temui wangsalan,
Wedang bandrek, wedang bajigur…demen dewek ngakue batur,
kembang jambe tutup ketel, demen kabeh laka sing nyantel
Bode Lor karang sari, watu belah pesalakan..
ari jodoh kena mari, aja belah ning persanakan
dan aneka rupa, percikan lain yang jarang kamu jumpai, Kawan…
Dan jangan heran kalau kamu sering jumpai, orang nyeletuk kata ‘jeh..’, sira jeh, anu jeh, mengkonon jeh, dudu jeh, blesak jeh’…seperti kembang api di awal tahun baru, berpendaran banyak sekali menghiasi malam. Kata ‘jeh’ bagi orang Cirebon, ibarat garam dalam sayuran. Pelengkap rasa lezat, walau tanpa makna dan arti.
Tapi, kekentalan rasa Basa Cirebonan itu lambat laun hambar, bias dan pudar, di antara celoteh metropolis anak – anak remaja di mall dan jalan – jalan kota. Tersingkir sunyi oleh riuhnya gengsi pesona kota. ”Sira nganggo basa cerbonan ning kota, kaya’ lagi manjak tarlingan bae…”
“soale blesak jeh…”
Ada pepatah bersabda ‘Bahasa menunjukkan bangsa’. Kalau basa cerbonan mulai layu, pudar, tersingkir dan sunyi, berarti kelangsungan identitas daerah bernama Cirebon hanya menunggu detik – detik kepunahan.
‘Aja mengkonon jeh…”

1 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
Agustus 28, 2009 pada 4:31 pm
gilang...
sedikit menanggapi mas…
kalo jaman saya masih SMA dulu,,,sampai 2007 lalu…
nyatanya bahasa cirebon bukanlah hilang…
mungkin lebih tepatnya ada percampuran…
namun dengan dasar bahasa indonesia ditambah sempalan bahasa cirebon…
bagi orang cirebon,,apabila bercakap dengan orang cirebon pula apapun bahasa utama yang digunakan akan selalu ada sempalan kirik dan jeh…
yaa..porsinya menjadi amat terbatas…
perlu ada kepedulian yang serius dan langkah nyata dari pemda beserta kita orang” yang sedikit banyak masih berlidah cirebon…