Ada segurat pepatah ‘air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga’ atau ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’ kutipan pepatah dari negeri seberang ‘like father like sons’. Rujukan artinya kira – kira sifat yang dimiliki oleh orang tua, akan menitis turun kepada anak-anaknya.

 

Tapi, benarkah demikian Kawan?

 

Di kampungku, ada seorang ulama yang sangat berkharisma, berbudi luhur, dihormati dan disegani. Tetapi kelakuan anaknya, 360 derajat berbanding terbalik dengan sang Bapak. Sang anak penjudi ulung, pemabuk handal, dan begundal kampung paling tengik. Bayangkan, ibarat langit dan bumi, kelakuan dua orang anak beranak tersebut.

 

Jadi, masih layakkah ‘like father like sons’?

dnaMengutip sedikit tentang ilmu genetika, setiap orang memiliki DNA (Deoxyribo Nucleic Acid)  yang unik. DNA adalah materi genetik yang membawa informasi yang dapat diturunkan. Di dalam sel manusia DNA dapat ditemukan di dalam inti sel dan di dalam mitokondria. Di dalam inti sel, DNA membentuk satu kesatuan untaian yang disebut kromosom. Setiap sel manusia yang normal memiliki 46 kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom somatik dan 1 pasang kromosom sex (XX atau XY).

Setiap anak akan menerima setengah pasang kromosom dari ayah dan setengah pasang kromosom lainnya dari ibu sehingga setiap individu membawa sifat yang diturunkan baik dari ibu maupun ayah.

 

Jadi, secara ilmu genetika pepatah tersebut masih layak kita kutipkan.

 

Yang menjadi persoalan kadang, sang Anak merasa menjadi penjelmaan utuh ayahnya dan berlindung nyaman dibawah naungan nama besar sang ayah. Ayahnya jenius, dia mengganggap pantas menjadi ketua perhimpunan ilmuwan, padahal tamat SMA pun tidak.

Ayahnya mantan jagoan sepak bola, dia lantas mengangkat dirinya menjadi kapten kesebelasan sepak bola, padahal untuk lari pun kewalahan. Ayahnya lurah, lantas dia menjadi ketua perhimpunan karang taruna, padahal istilah karang taruna pun tidak dia kenal.

 

Banyak kejadian – kejadian seperti ini, Kawan. Membebek, mengekor, berlindung di bawah nama besar sang Ayah, bukan kokoh menjadi diri sendiri yang pantas disejajarkan dengan kharisma nama sang Ayah. Tidak pernah menenteng, membawa – bawa kesana kemari nama sang Ayah disetiap kesempatan.

Setiap jaman melahirkan tokohnya sendiri, Kawan. Dan setiap tokoh, menciptakan sejarahnya sendiri.

 

Ingat, ada seorang Presiden terlahir dari anak petani yang tak dikenal namanya, Kawan.

Iklan