Maaf Kawan, kalau pepatah Many roads lead to Rome aku ganti menjadi many roads lead to Cirebon, banyak jalan menuju Cirebon. Tidak ada maksud apa – apa, cuma saya bingung kalau harus menceritakan jalan mana saja yang menuju ke Roma ?

 

Seumur hidup, Roma belum aku pijak buminya, cuma sebatas angan dan khayalan kalau suatu saat  bisa menghirup suasana kota yang didirikan oleh saudara kembar Remus dan Romulus, yang tumbuh dan dibesarkan oleh seekor serigala betina itu. Berharap bisa lari pagi mengitari Colosseum, yang menyisakan magis keperkasaan para gladiator menghantam binatang buas untuk menjemput statusnya sebagai manusia merdeka. Mencumbui Roma masih sebatas angan – angan, Kawan.

 

cirebon1Sedangkan kota Cirebon, sudah hampir seperempat abad saya injak buminya, saya junjung langitnya dan saya hirup aromanya. Liku – liku, lekuk pengkolan dan guratannya masih saya kenal.  Walaupun, sudah lebih satu windu saya merantau meninggalkannya.

Kita mulai perjalanan dari Jakarta, sebagai titik 0 Kilometer Indonesia. Kita bisa menggunakan beberapa transportasi alternatif. Dengan jalur kereta api, bus kota, truk omprengan. Atau kalau hendak plesiran nyaman, bisa memakai kendaraan pribadi. Terserah selera kenyamanan yang hendak kita inginkan.

 

Tapi sayang, sepertinya transportasi udara dan laut masih belum menjanjikan rute ke Cirebon. Mungkin suatu saat akan terwujud.

 

Jalur Pantai Utara, Pantura, jalan nasional sepanjang 1.316 km antara Merak hingga Banyuwangi di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, khususnya antara Jakarta dan Surabaya, merupakan jalur yang banyak dipilih. Wajar saja kalau jalur yang dibuat oleh Daendels pada tahun 1810-an ini setiap hari dilalui sekitar 20.000-70.000 kendaraan. Entah kenapa banyak yang memilih jalur yang tua ini padahal banyak ruas yang rusak dan kecelakaanya cukup tinggi.

 

Padahal ada jalur selatan yang indah dan bergunung – gunung, walaupun memang harus memakan waktu lebih lama. Tapi dengan menikmati keindahan, waktu yang lama itu bisa tergantikan dan nyaman.

 

Ah, selama perjalan menuju Cirebon, di antara buaian angin keringnya saya berandai – andai. Andaikan tujuan kita satu persepsi ke Cirebon, kenapa harus banyak jalan dan alat transportasi ? Kenapa tidak dibuat satu atau dua jalan yang amat nyaman, singkat dan indah dengan satu atau dua alat transportasi saja, biar tidak sering terjadi tabrakan ditikungan, turunan, tanjakan..  Andaikan, tujuan dan platform kita sama menuju Indonesia yang aman, adil dan sejahtera kenapa harus membuat banyak partai yang sering terjadi tabrakan kepentingan ?

 

Kenapa harus banyak partai kalau tujuan dan platformnya hampir sama, mengerucut ke Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur ?

 

Memang dengan menyediakan banyak alat transportasi alternative, kita bisa memilih sekehendak hati kita, mau yang kelas ekonomi atau yang kelas eksekutif. Mau yang nyaman atau yang ombrengan. Perusahaan transportasi juga bisa bersaing secara sehat, tidak sekehendak hatinya menaikkan ongkos. Tapi kadang, kondisi di lapangan tidak seindah di kertas teori.

 

Banyak alat transportasi justru banyak yang ugal – ugalan, saling serobot penumpang tanpa peduli aturan dan larangan. Saling salip tidak karuan. Akhirnya penumpang juga yang menjadi korbannya.

 

Ah, Many roads lead to Cirebon, Kawan.

Iklan