Bagi kaum jurnalistik, tentu mahfum dengan pameo klasik  “ bad news is a good news”. Mungkin artinya kira – kira, peristiwa yang kelabu mengandung pamor berita yang cemerlang. Jadi wajar saja kalau realita yang buruk, peristiwa yang keruh, menjadi prioritas incaran para pewarta. Tentu peristiwa orang menggigit anjing lebih mengandung unsur pamor pemberitaan tinggi, daripada berita orang digigit anjing, yang sudah lumrah terjadi.

 

kamera1Mungkin terpecik dari pameo klasik itu, banyak pewarta yang berburu peristiwa yang janggal, aneh, bahkan buruk. Berlomba – lomba memberitakan kemalasan seseorang, kasus narkoba, kisruh rumah tangga, artis – artis muda yang manja bergonta – ganti pasangan, perceraian, gonta – ganti mobil, rebutan anak, urusan utang piutang, rebutan harta, bahkan sampai urusan kamar tidurnya di acak – acak, dan ironisnya disiarkan di seluruh Indonesia sepanjang hari. Fantastis nian, Kawan ! Bayangkan, dari Sabang sampai Merauke, orang Indonesia tahu kalau sang Artis selingkuh.

 

Itulah yang disuguhkan dalam program televise yang bertajuk infotainment.

 

Dan hebatnya acara infotainmen seperti itu ratingnya kokoh bertahta bagi para pemirsa. Entah kenapa kawan, selera pemirsa Indonesia lebih takzim menyimak urusan privasi orang lain, dari pada acara pendidikan untuk anak – anaknya.

 

Dampak logis kalau televisi terperangkap industrialisasi memburu rating sebagai barometer, mengeruk keuntungan dari pasokan iklan, dan menyingkirkan batas kepatutan.

 

Bagaikan lahan yang amat subur, stasiun televise menggarap lahan infotainment. Satu artis bisa muncul di berbagai stasiun televise, dengan kasus yang sama, sepanjang hari.

 

Saat Anda bangun di pagi hari di TPI ada Kassel diteruskan oleh Go Show, di RCTI punya Go Spot, Kabar Kabari, Cek n’ Ricek: SCTV menayangkan Was Was, Ada Gosip, OTISTA, Kasak Kusuk, Hot Shot, Halo Selebriti, dan Bibir Plus, antv (BETIS – Berita Selebritis), Indosiar (KISS dan Sensor), TV7 (Star 7, Kabar Idola  dan Blow up), Lativi (Xpose) dan Trans TV (Insert, Insert Pagi, Insert Sore dan  Kroscek) dan banyak lagi jumlahnya.

 

Tragisnya kawan, kadang lahan infotainment ini menjadi batu loncatan untuk melambungkan nama artis karbitan yang baru muncul di jagat selebritis. Padahal menghadapi kamera saja masih gagap dan blingsatan. Iklan manjur untuk menjual popularitas.

 

Kapan acara edukatif, ilmiah, menampilkan pesona inovasi, temuan kreasi, menempati tahta rating di negeri kita ? Ibu – ibu menemani anakknya menyimak metamorfosis kupu – kupu, para remaja berdiskusi sambil merancang temuan energi masa depan dari televise. Sementara artis karbitan yang teriak kesana – kemari mencari popularitas di televise, gigit jari.

Artis – artis yang bermasalah dengan kehidupannya, biarlah dengan tentram menyelesaikan masalahnya.

 

Tidak bisakah good news ia a good news, Kawan ?

Iklan