Kawan,

Suatu saat, saya pernah menyusuri desa terpencil di kaki gunung Merapi Sumatera Barat. Jalannya kecil berliku, menyusuri hutan yang lebat dan berkabut. Singgah melepas lelah di sebuah warung kecil pinggir sawah, dengan gerobak bakso bertuliskan WONG SOLO.

Sekilas saya masih terbius, menikmati asri dan sejuknya desa kecil di kaki gunung ini. Udaranya begitu lembut dingin. Sampai akhirnya saya tersadar, tempat saya singgah adalah sebuah warung Bakso WONG SOLO. Wong Solo ada di desa kecil yang tersembunyi di lebatnya hutan kaki Merapi ?

Betapa hebatnya daya juang sang Tukang Bakso, Kawan. Menghadapi lebatnya hutan sunyi, jalan kecil yang berliku, dan terdampar jauh dari kampung kelahirannya. Inilah realita ekonomi kerakyatan, kecil, liat, tangguh, tidak meriang oleh krisis ekonomi global sekalipun. Sementara ribuan ahli berseminar di hotel megah membahas teori ekonomi kerakyatan, sang Tukang Bakso sudah memberikan bukti.

baksoBakso memang masakan khas Indonesia yang bisa diterima lidah kaum belia dan tua. Potensi pasar bakso pun sangat besar, dari 240 juta orang Indonesia dengan asumsi 1 % penikmat bakso sejati, maka 2,4 juta orang potensi pasar sudah tersedia. Andai, kita ratakan harga seporsi bakso Rp 10.000, maka ada uang 24 Miliar Rupiah yang berputar di sekitar bisnis bakso. Menakjubkan, kawan.

Potensi inilah yang seharusnya dikembangkan oleh sang pembuat kebijakan, menancapkan pondasi yang kokoh bagi industri kecil. Membuat bakso lebih bersaing, bahkan menembus pasar kuliner iinternasional. Isu – isu yang melumpuhkan mereka, seperti bakso formalin, bakso daging tikus, bakso kolor dan sebagainya, harus diantisipasi. Bahan baku bakso yang murah, higienis, dan bergizi senantiasa tersedia di pasaran. Resep baru yang sehat, tempat yang bersih, informasi pengembangan usaha, sepertinya layak terus ditiupkan.

Bayangkan Kawan, jika dari usaha bakso menyerap 10 juta pekerja mandiri Indonesia, inilah jawaban nyata kertas seminar usaha mikro kecil itu. Menggerakkan roda ekonomi kerakyatan, dan bila roda ini mogok oleh isu – isu keruh yang berhembus, bisa dikalkulasi uang yang terhenti dan pengangguran yang tercipta.

Bila potensi dahsyat ini dikelola jitu, saya yakin suatu saat pangsa pasar bakso tidak cuma di pelosok desa kecil kaki gunung, tetapi tersaji di menu salah satu café New York. Mungkin juga belahan dunia lainnya. Bahkan di bulan. Bukankah ada anekdot, kalau Neil Amstrong waktu mendarat di bulan dengan Selamat, Sang Tukang Bakso ?    

Iklan