Bung Karno pernah menitipkan pesan “jangan sekali – kali melupakan sejarah”. Semestinya pesan ini benar – benar diberikan makna yang tepat.

 

Sebab, dari sejarah kita bisa berkaca, Kawan. Berkaca tentang segala sesuatu, tentang kesalahan kita, kejayaan kita, bahkan kemasyuran kita. Dari proyeksi kaca sejarah inilah kita bisa menentukan arah tujuan kita ke depan.

 

borobudur-21Tengoklah menjulangnya Candi Borobudur. Itu adalah sejarah termasyur yang pernah tercipta dari negeri kita. Candi  yang dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa ini, memberikan bukti bahwa kita pernah digjaya dalam ilmu arsitektur.

 

Bayangkan Kawan, tanpa bulldozer canggih, tanpa alat – alat ukur arsitektur yang mutakhir, tanpa sketsa yang rumit, bangunan itu bisa  berdiri kokoh dengan pertautan batu ( interlock )yang tepat tanpa melenceng, tanpa semen sama sekali. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi, ketika komputer belum tercipta.

 

Rasakanlah pahatan reliefnya. Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam ( mapradaksina ) yang menggambarkan segala perbuatan manusia. Seperti layaknya perpustakaan alami yang terbentang, untuk berkaca diri. Hanya pemahat ulung yang layak menciptanya, Kawan.

 

Andaikan, candi ini dibangun pada saat ini, berapa arsitek handal yang harus kita himpun. Berapa seniman, berapa komputer canggih, berapa alat – alat berat, berapa biaya yang diperlukan, berapa waktu yang dihabiskan.

 

Namun sayang, kedigjayaan arsitektur sejak 800 Masehi itu seperti menguap begitu saja. Belum ada lagi, bangunan monumental yang masyur menandingi Borobudur. Yang kebanyakan tercipta hanyalah gedung sekolah yang rapuh, jalanan yang senantiasa ambrol, proyek yang terbengkalai, jembatan yang ringkih dan bentuk pengingkaran sejarah lainnya. 

 

Sekelam apa pun sejarah, dia bisa menjadi kerlip cahaya introspeksi yang menuntun langkah kita. Jangan kita campakkan tanpa makna di sudut jaman, Kawan.

Iklan