Seperti layaknya bocah 9 tahun, Mohammad Ponari bermain di bawah guyuran air hujan ketika petir menyambar-nyambar di atasnya. Saat itulah tanpa sengaja dia menemukan batu sebesar kepalan tangan, berwarna kehitaman.

Dan kemudian, sang nasib membawanya bersama sang batu menjadi bocah yang tidak biasa. Rumahnya di dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timar yang biasa sepi mendadak dijejali puluhan ribu pasien yang saling desak mendesak mengantri untuk mendapatkan tuah batu saktinya.

Bahkan, bukan kesembuhan yang didapat dari batu itu malah maut menjemput 4 korban dalam desakan tersebut.

Indonesia pun dibuat geger oleh bocah kelas 3 SD itu. Hampir tiap hari, berita tentang Ponari dan batunya menjadi headline media cetak dan elektronik. Berebut halaman utama dengan berita perseteruan tokoh politik, persaingan calon presiden, pelanggaran kampanye, bencana banjir, longsor dan berita nasional lainnya.

Kalau kita hidup lama dan dengan terbiasa menghirup aroma tidak masuk akal di negeri ini, hal itu bukan merupakan fenomena yang luar biasa. Hampir setiap hari, sepanjang tahun semenjak kita kecil hingga menuju tua, seringkali masyarakat mengagungkan hal-hal yang memang tidak masuk akal itu. Hampir di seluruh pelosok negeri ini, aroma dupa luar nalar itu memasuki rongga-rongga kehidupan kita, dengan aneka wujud yang serupa walau tak sama.

untitled4Mengagungkan keris, mengkeramatkan batu, mendewakan pohon, mengkultuskan seseorang, bahkan mentuahkan – maaf – kotoran kerbau. Itulah budaya yang berkembang di masyarakat kita sejak jaman dahulu kala. Jadi bukan hal yang luar biasa kalau batu Ponari dicari ribuan orang di Indonesia, untuk menyembuhkan segala bentuk penyakit.
Dan jangan tanya kenapa, karena hal tersebut sudah tercium aromanya sejak jaman dulu kala, yang hingga saat ini tidak juga sirna.

Justru yang menjadi fenomena luar biasa, ketika orang di negeri ini bisa menganalisa masalah dengan ketajaman ilmiah dan kecerdasan nalar berdasarkan logika yang masuk akal. Tapi justru, hal yang masuk akal ini sepi peminat bahkan dicampakkan jauh-jauh.

“Males, njelimet, pusing, tidak menarik…” gerutu seseorang sambil berlalu dengan acuhnya.

Tapi coba, dengan hanya mencelupkan sebuah batu aneh ke dalam gelas dan meminumnya, orang akan berbondong-bondong menyerbunya, walau nyawa digadaikannya.

“Simple, tidak perlu mikir dan tidak perlu pusing-pusing…”

Iklan