Seorang pengusaha sukses, menolak mati-matian peraturan yang menaikkan upah minimum buruh.
“Kenaikan upah minimum itu sangat memberatkan kami…” katanya berapi-api, sambil telunjuk tangan kanannya yang dilingkari cincin emas murni bertahtakan batu merah delima berharga ratusan juta rupiah, menunjuk udara.
“Kalau upah buruh dinaikkan, kita bisa bangkrut…” lanjutnya, sambil tangan kirinya yang bergelang emas puluhan gram, membetulkan letak dasinya yang bermerk terkenal.


Sementara di rumah kontrakan yang sempit berdinding triplek yang sudah lapuk, Sarinah tengah menghangatkan nasi sisa kemarin untuk sarapan paginya dengan sepotong ikan asin dan tempe goreng sebagai bumbu lauknya.


“Kita sedang dilanda krisis global, tolong jangan beratkan pengusaha dengan peraturan-peraturan yang tidak probisnis…” pengusaha sukses itu masih berapi-api, sambil mengencangkan ikat pinggang kulit yang dibelinya waktu plesiran ke Roma, Italia.


Entahlah Kawan…Para buruh, tidak pernah memikirkan krisis global, probisnis, atau segala aturan-aturan yang dia tak mengerti, yang dia pikirkan hanyalah upah yang dia terima dari pabriknya amat tidak sepadan dengan kebutuhan hidup paling minimum sekalipun.


“kalau kita ditekan terus, kita bisa melarikan investasi kita keluar negeri…” ancam sang pengusaha itu masih berapi-api, sambil merapihkan rambutnya yang baru saja digunting di salon terkenal, di sebuah mall megah.


Lihatlah, segala yang menghiasi tubuh sang pengusaha sukses terkenal itu, kalau dinominalkan sudah cukup untuk membiayai hidup Sarinah selama puluhan tahun. Tapi tetap saja, dia menolak mati-matian secuil tambahan upah untuk mencukupi hidup buruhnya, yang telah membuatnya bisa plesir ke Roma, bisa shoping ke Hongkong, bisa makan siang di Dubai, bisa bersin di Hawaii, bisa menanam bangkai ikan arwana di halaman apartemen mewahnya di Singapura.


Yang dituntut para buruh pun bukan plesiran mewah ke Roma seperti boss besarnya, yang dia butuhkan cuma upah yang layak sebagai simpul penyambung hidup supaya tidak putus, bukan untuk  menghiasi hidup dengan kemewahan dan kemegahan.


Tidak bisakah menyisihkan sedikit gaya hidup mewahmu, untuk secuil lauk buruhmu yang layak, Pak Boss?

Iklan