Ficus benjamina,
Itulah nama latin pohon beringin, pohon yang berbatang tegak bulat dengan permukaan kasar, coklat kehitaman dengan akar menggantung dari batang.

Dan inilah sepenggal kisah kenangan tentang pohon yang mempunyai bunga tunggal, menyembul keluar dari ketiak daun berkelopak bentuk corong berwarna kuning kehijauan, sewaktu kecil dulu di kampung halaman.

Dulu, di kampungku ada sebatang pohon beringin tua. Tempat kami teman sepermainan, biasa menghabiskan waktu. Bercanda bersama, main layang-layang, berkelahi, main petak umpet, menggembala kerbau, dan tidur bersama di antara naungan rimbunan daun tunggalnya yang lonjong, hijau, dengan panjang 3 – 6 cm, bertepi rata, letak bersilang berhadapan.

Atau main tembak-tembakan dengan peluru mainan dari buahnya yang bulat kecil, panjang 0.5 – 1 cm.

Waktu seakan berhenti melompat, waktu kami bermain di bawahnya, begitu teduh, adem dan nyaman. Tapi temanku Joko, ketakutan setengah mati kalau ditinggal sendirian di situ, dia bisa terkencing-kencing di celana.
“Bentuknya seram, angker…tempat jin, hantu, dedemit, beranak pinak…” kata Joko ketika itu.

Entah benar entah tidak omongan Joko, yang jelas di kampungku dulu para orang tua juga begitu percaya akan tuah dan keangkeran pohon beringin tua itu. Karena tiap malam Jum’at ada saja orang yang menaruh sesajen dan dupa di bawah pohonnya yang begitu kuat mencengkram tanah dan bebatuan.

Tapi justru, aneka sesajen itu yang menjadi santapan lezat ketika kami bermain-main keesokan harinya. Walaupun dalam hati, kami takut kualat untuk memakan aneka sajen itu.

Hingga suatu saat, pohon renta itu nyaris tumbang diseruduk oleh kerbau gila Katmo, yang sedang berahi dan lepas dari kendali angonan. Untung akar-akarnya yang amat kuat mencengkram tanah, bisa menopang tubuhnya yang rimbun. Hanya kerbau Katmo yang kepalanya berdarah-darah dan sempoyongan, dan setelah itu cacat.

Kami sempat khawatir ketika itu, takut kalau-kalau kami tidak ada lagi tempat berteduh dan bermain. Sedangkan Joko, takut kalau demit-demit penunggu pohon renta itu akan ngamuk, berkeliaran dan menghancurkan kampung kami.

Sampai sekarang, pohon renta itu masih berdiri di kampung kami. Walaupun dengan tubuh agak pincang, condong ke kanan, bekas serudukan kerbau gila si Katmo. Setidaknya, kami masih bisa mengingat semua kenangan itu.

Kenangan yang manis dan pahit. Bercanda bersama, main layang-layang, berkelahi, main petak umpet, menggembala kerbau, dan tidur bersama. Joko juga masih mengingat demit-demit yang masih bercokol dan beranak-pinak di sana.

Iklan