Siang bolong yang amat terik. Sebenarnya saya malas untuk mencoba mengintip kegiatan kampanye sebuah partai di panggung terbuka. Namun, rasanya kurang berdasar kalau kita menilai sesuatu, hanya dari sudut pandang sempit yang penuh apriori.
Akhirnya, saya mencoba mengintip acara kampanye itu, untuk mengubur apriori sudut pandang saya, tentang kampanye selama ini. Dan mencoba menikmati rasa demokrasi di negeri ini.

Acara kampanye itu berlangsung di lapangan terbuka, kebetulan tak jauh dari rumah saya. Saya mencoba mengintip setiap kegiatan yang berlaku selama kampanye itu berlangsung, dari sebuah warung es cendol tak jauh dari arena lokasi kampanye.

Seperti kegiatan kampanye yang biasa aku saksikan di layar televise, kampanye itu berlangsung di lapangan terbuka, di panggang panas matahari yang terik di siang bolong.

Dengan berkonvoi, pendukung partai datang ke lokasi lengkap dengan bendera, kaos, atribut dan umbul-umbul. Mereka mengendarai sepeda motor tanpa mengenakan helm, mengerahkan massa naik kendaraan terbuka melebihi kapasitas, dan seenaknya menguasai jalan raya. Peserta kampanye seolah tak peduli bahwa tingkahnya membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka juga tak mau tahu pengguna jalan lain mengumpat karena lalu lintas jadi macet, para pekerja tak bisa pergi ke tempat kerja dengan cepat, atau kuping mereka pekak mendengar deru sepeda motor.

Ternyata, suasana kampanye yang tergambar di layar televisi, sama persis dengan yang saya nikmati saat ini, di depan mataku. Rasa aprioriku makin kambuh, di siang yang terik ini.
Untung es cendol yang saya nikmati, menyegarkan tenggorokan dan suasana. Dan saya kembali mencoba membunuh rasa aprioriku, dengan tetap mencoba menikmati nuansa kampanye ini dan segelas es cendol.
“Anggap saja, ini bunga-bunga kampanye” hiburku dalam hati.

Di atas panggung, mulailah para calon anggota legeslatif berteriak-teriak menaburkan janji-janji manisnya. Kata-kata kesejahteraan, perubahan, perbaikan, kemakmuran dan lain-lain berlompatan keluar dari mulutnya.
Tapi di bawah panggung yang terik itu, massa pendukung partai seakan tidak acuh, dengan segala janji manis itu, mereka malah berteriak-teriak : “Musik lagi…goyang lagi! Musik lagi…goyang lagi…”
“Oke, pilihlah saya…dan nikmati lagu dangdut yang satu ini…” kata anggota Caleg itu

Praktis, tidak dapat saya ketahui program dan platform partai beserta calegnya pada kampanye di siang yang terik itu. Yang saya dengar cuma musik dangdut dan janji-janji. Selebihnya dipenuhi goyangan penyanyi dangdut dengan memakai baju ketat yang bisa membunuh sistem pernafasannya itu. Kampanye yang saya saksikan siang ini, tak ubahnya pertunjukan musik dangdut hajatan sunat di kampungku dulu.

Sebelum rasa aprioriku makin akut dan membunuhku, saya tinggalkan arena kampanye itu.

Iklan