Situ Gintung, danau seluas 21 hektare dengan kedalaman rata-rata sekitar 4 meter dan mampu menampung air sekitar 1 juta meter kubik itu, pada mulanya adalah bendungan kecil yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1932 dan selesai 1933 .

Setelah 76 tahun lebih menahan berat beban, Jumat 27 Maret 2009 bendungan itu pun ambrol. Menghanyutkan kabar duka puluhan jiwa.

Lantas terhenyaklah semuanya. Berteriak-teriak menyalahkan alam dan musibah. Memang, bukan manusia yang menentukan arah nasib dan mengira letaknya. Kita juga tidak kuasa untuk menolaknya. Tapi, kita punya kuasa untuk mengantisipasi agar tidak menjadi musibah.

Bayangkan…sejak 2 tahun belakangan ini masyarakat sekitar tanggul sudah khawatir, tetapi kekhawatiran itu kurang mendapat respon dari Pemerintah. Padahal pada Nopember 2008 lalu tanggul Situ Gintung pernah jebol walau belum parah. Anehnya, Pemerintah setempat belum berbuat secukupnya untuk mengatasinya. Bahkan early warning system (sistem peringatan dini) pun belum dibuat.

Contoh kasus lain, jalanan umum yang berlobang-lobang dan sering menyebabkan celaka, masih saja dibiarkan menganga. Kenapa semua ini masih saja berlangsung, kasat mata tanpa ada antisipasi ? Menunggu petaka kembali terulang, kah?

Jangan kambing hitamkan alam, kalau musibah menimpa. Karena alam sudah memberikan pertanda, dan kita cuma diam tanpa usaha. Kita hanya sibuk menyalahkan alam, setelah semua itu terjadi.

Berulang-ulang kejadian ini terjadi di seputar kita. Seperti memutar rekaman buram dan kita terus menikmatinya.
Kawan, antisipasilah sebelum alam menagih pertandanya.

Iklan