by unai

Katamu, di kotamu…hujan datang lebih awal.  Pertengahan Juni hujan lebat acap membuat kotamu tergenang. Ada apa di bulan itu ?. Bulan dimana musim belum seharusnya berganti.   Banjir. Air meluah. Sama dengan airmata perpisahan kita ratusan purnama lalu.

Dan saat hujan kecilkecil pertama turun di pertengahan Oktober di kotaku …kau lebih dahulu memilih berlalu. Menyisakan  luka yang kian hari kian bernanah. Meninggalkan aku  dalam kenangan kisahkisah yang tak mampu kuhapus.

Siang hampir tua, mendung menggantung di langit barat daya. Pertanda hujan lebat akan datang. Kau tau?  setiap kali hujan turun, aku memilih menghabiskan waktu ; mematung di  bingkai jendela kaca, menikmati siluet hujan yang merambati kaca, meninggalkan jejak serupa jalan semut membawa bekal sembari mengenang sebuah kisah. Tentang cinta peri angin yang tak mampu menentramkan letih yang selama ini menggelisah di matamu.

Berkali kutulis namamu, pada helai kaca yang menampung titiktitik udara dari nafasku. Kutulis. Kuhapus. Kutulis lagi. Kuhapus lagi. Hingga kebas jemariku, membeku.

Awan hitam mendekat, seakan aku mampu menyentuhnya dengan berjinjit saja. Gemuruh petir susul menyusul, badai datang. Badai di akhir tahun memang kadang dasyat. Menakutkan, namun bagiku, langit jauh lebih indah setelah badai. Entah bagaimana menurutmu?.

Kini kau telah  pergi, dan jika memang benar bumi itu bulat, pastilah kita akan bertemu lagi di satu titik, lalu kita duduk bersama dan bersulang secangkir kopi, menyesapnya sambil menikmati hujan di warung tenda sambil bercerita tentang perjalanan yang membuat penat.

Tamantirto, 26 November 2008
Kado untuk seseorang yang tak bisa lepas dari belenggu masa lalu

tulisan eksotis ini aku cuplik dari http://negerimimpi.wordpress.com/

Iklan