You are currently browsing the category archive for the ‘Uncategorized’ category.

Hari ini, ketika pemilihan umum belum mulai…
Seorang caleg, dari suatu partai bersama – sama warga di suatu kelurahan bergotong – royong memperbaiki jalan yang rusak.

Pagi ini, ketika pemilihan umum belum juga mulai…
Seorang caleg, dari suatu partai membagikan sumbangan kepada puluhan keluarga yang terkena terjangan angin puting beliung

untitled2Siang ini, ketika pemilihan umum sebentar lagi dimulai…
Seorang caleg, dari suatu partai membagikan bahan pokok dan alat-alat tulis kepada ratusan keluarga kurang mampu di suatu desa terpencil di pinggir laut

Andaikan pemilihan umum diselenggarakan tiap saat, alangkah indahnya bagi keluarga yang hidup terpencil dan serba kekurangan, karena saat itu dia bisa menikmati hal-hal istimewa yang jarang dia jumpai dalam hidupnya.
“Ya Tuhan, semoga pemilihan umum ini bisa diselenggarakan setiap saat…” doa ibu miskin itu, sambil membawa bungkusan beras dan bahan pokok lainnya, dari sumbangan seorang caleg yang baik hati dan murah senyum, di hari ini.

Menjelang pemilihan umum, 9 April 2009, kompromi dan lobi makin intensif, Kawan.

Saya juga kurang mahfum, apa yang dikompromikan dan apa yang dilobi. Lantas tujuan kompromi untuk apa, bagaimana bentuknya, apa sasaran utamanya, saya juga kurang mengerti atau tepatnya tidak mengerti.

Maklum, saya cuma rakyat kecil Kawan. Sama dengan 250 juta rakyat Indonesia lainnya di seluruh pelosok negeri ini. Entah apa yang dibicarakan para petinggi partai, para elit ekonomi, para pemegang uang banyak, dan sejumlah kalangan atas lainnya.

handHarap maklum kalau saya tidak mengerti, karena biasanya rapat, kompromi, dan lobi cuma dilakukan di tempat terbatas, tertutup, empat mata, rahasia, dan rakyat kecil seperti saya tidak diperbolehkan tau.

Andaikan, hasil kompromi dan lobi para petinggi itu diberitakan secara jujur, terbuka dan transparan kepada seluruh rakyat Indonesia seperti saya, mungkin kita jadi mahfum. Dan kita bisa tenang, yakin dan pasti, menitipkan hak suara kita kepada mereka tanpa was was apalagi ragu.

Masalahnya, sering kali hasil kompromi itu tertutup rapat, bak kotak pandora yang tabu untuk diungkapkan.

Kalaupun, misalnya kompromi itu untuk membagi peta wilayah kekuasaan, silahkan saja, yang penting hasilnya untuk memakmurkan seluruh rakyat Indonesia. Andaikata, lobi itu, umpamanya untuk membagi kue pemerintahan, silahkan saja, yang penting tujuannya untuk menyejahterahkan seluruh penduduk Indonesia.

Tak perlu malu dan kasak – kusuk Kawan, berkompromi secara rahasia untuk membagi wilayah kekuasaan, yang penting tujuan utamanya rakyat Indonesia, bukan partainya semata, golongannya, apa lagi keluarga pribadinya.

Terbuka dan jujurlah kepada kami, jangan berkompromi rahasia di sebuah rumah makan mewah, yang hanya membuat kenyang segelintir orang. Alangkah eloknya, mengajak seluruh rakyat, berdialog sambil lesehan di tengah lapang terbuka dengan suguhan kacang dan singkong rebus, berkompromi menentukan arah kemakmuran seluruh bangsa Indonesia.

Indah penuh kebersamaan dan semuanya terang benderang…

image001

Inikah yang kau maksud menjaga ketentraman dunia ini, Kawan ?

 

image027

Inikah yang kau tuju, perdamaian di seluruh dunia, Kawan ?

 

image008

Inikah yang kau artikan, menjaga kelestarian bumi, Kawan ?

 

image023

Inikah yang kau berikan, sebagai ungkapan cinta atas nama kemanusiaan, Kawan ?

Lionel Messi, pria kelahiran Rosario, Argentina, 24 Juni 1987, mendapat standing ovation ketika pelatih Barcelona Pep Guardiola menariknya ke luar lapangan menjelang pertandingan bubar. Messi mendapat sambutan seperti itu setelah menampilkan permainan luar biasa dan mencetak semua tiga gol Barcelona ke gawang Atletico Madrid, Selasa 6 Januari 2009 di stadion Vicente Calderon, Madrid, Spanyol, kandang kebanggaan Atletico Madrid.

 

standing_ovation1Yang sangat istimewa Kawan, penonton yang melakukan standing ovation bukan sekedar pendukung Barcelona yang bertabur suka cita, tapi juga pendukung tim lawan, Atletico Madrid yang bergelayut kekalahan gara – gara gawang timnya dibobol tiga gol oleh Messi.

 

Amboiii, alangkah indahnya sportifitas itu Kawan.

 

Standing ovation adalah tepuk tangan sambil berdiri, biasanya diberikan sebagai pujian atau ungkapan kebanggaan. Tidak perduli tim kesayangan kita tersungkur oleh aksinya, tapi kita mengakui kehebatan dan keunggulannya. Itulah sportifitas yang sejati, Kawan.

 

Itu yang kita butuhkan dalam setiap dimensi pertandingan, apa pun wujudnya. Bukan sportifitas fanatik yang buta, sempit dan kaku. Hanya mau mengakui keunggulan tim yang kita dukung, dan mencibir tim lawan, walaupun tim lawan bermain sangat cantik, indah dan luar biasa.

 

Kalau semangat sportifitas sejati ini kita taburkan dalam setiap aroma dimensi pertandingan, tidak akan ada kekacauan dan kerusakan yang memilukan semua pihak. Damai walau sengit bertanding.

 

Indah nian, Kawan.

Sudahkah kau baca KOMPAS hari ini, Kawan ?

 

Berikut ini saya petik tulisan Kompas, Senin 22 Desember 2008 di halaman 8, kolom 1 sampai dengan kolom 5, judulnya amat spesial menurutku “Atribut Parpol Abaikan Estetika” : Atribut parpol dan calon anggota legislatif (caleg) itu dipasang di segala penjuru, mulai dari dinding terowongan jalan bawah tanah, pagar pembatas jalan protokol, hingga tiang listrik. Sekarang juga mulai menggejala pemasangan atribut parpol dan caleg di papan reklame. Semua berlomba, adu tinggi tiang, dan adu lebar bendera.

 

benderaAh, kegelisahanku selama ini ternyata ada yang mengulas juga. Yah, selama ini saya terus terang merasa aneh melihat bendera – bendera partai politik itu berkibaran seenak udelnya sendiri, tanpa aturan apalagi tata krama, membuat hati miris dan emoh meliriknya, apalagi untuk mencoblosnya.

 

Bagaimana mereka mau mengatur kita, 200 juta lebih penduduk Indonesia, lha wong mengurus bendera partainya saja tidak becus ? Bagaimana berjanji memakmurkan kita, mengatur wajah dan poto iklannya saja tidak bisa ? Miring ke sana, miring ke sini. Dipasang di sembarang tempat tanpa aturan.

 

UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Pasal 101 Ayat 2 UU itu menyebutkan, Pemasangan alat peraga kampanye Pemilu oleh pelaksana kampanye dilaksanakan dengan mempertimbangkan etika, estetika, kebersihan, dan keindahan kota, atau kawasan setempat yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Ayat 3 menyebutkan, pemasangan alat peraga kampanye pada tempat yang menjadi milik perseorangan atau badan swasta harus dengan izin pemilik tempat itu.

 

Sudahkah mereka membaca, memahami dan melaksanakan peraturan tersebut ? Ah, seharusnya mereka sadar aturan dulu sebelum mendeklarasikan sebagai parpol dan caleg yang layak mewakili kita .

 

Kalau hal sepele saja mereka langgar dengan santainya, bagaimana dengan hal rumit yang nanti akan mereka laksanakan ? Ah, estetika…estetika…dari sini saja kita bisa tahu bagaimana kualitas parpol dan calon anggota legislative Kawan…

barack-obama2Suhu yang hangat 22 derajat selsius menyelimuti Grand Park Chicago, pukul 22.00 waktu setempat. Barack Hussein Obama, melangkah ke panggung dan di atas podium di hari Selasa 4 November 2008 dia berucap “ Kemenangan ini milik anda semua…”. Kawan, Si Kulit Berwarna itu sekarang memimpin sebuah negara besar bernama Amerika Serikat. Setelah sekian waktu bergelut menempuh jalan konvensi dan pemilihan, akhirnya pria 47 tahun itu menjadi Presiden. Kemenangan bersejarah presiden Amerika pertama berkulit hitam.

 

Bukan gempita kemenangan itu yang aku kenang, Kawan. Tetapi sebuah ucapan selamat yang manis dari John McCain, sang Seteru di Phoenix Arizona, 30 menit setelah Obama dinyatakan sebagai pemenang. Alangkah indahnya, bila akhir pertempuran yang klimaks disudahi dengan salam sportivitas yang gentleman. Ibarat kuntum yang mengkal, maka bunga merekah nan harum adalah persembahan yang terindah, Kawan.

“Saya memberi ucapan selamat kepadanya karena telah dipilih menjadi Presiden AS, Negara yang kami berdua cintai,”

 

Kita bisa berdebat maha seru, bertarung sampai titik darah penghabisan, berlomba sampai titik puncak, beroposisi sampai mati, tapi begitu sang lawan memenangi pertandingan maka kita harus jujur mengakuinya, Kawan. Inilah harum semerbak demokrasi Kawan.

 

Dalam laga perlombaan apa pun, kita berhak memakai berjuta – juta cara jitu, mujarab, dan legal Kawan. Kita bisa berdebat dengan bermacam pendapat, opini dan kritikan yang pedas membara. Sekuat tenaga dan akal kita kerahkan untuk memenangkan pertarungan itu.

Tetapi, bila sang Juri sudah menetapkan secara bijak, sportif dan adil, maka kita harus menerimanya dengan gagah. Pelukan sportivitas yang hangat, bukan rusuh yang menutup indahnya perlombaan, Kawan. Bukan ungkapan caci maki dan semprotan serapah kepada lawan kita. Atau hujan batu luapan emosi.

 

Lihatlah Obama dan McCain, saling kritik dan saling serang dengan kata – kata yang pahit sepanjang kampanye Presiden. Tapi ketika Obama menjadi sang Pemenang, McCain dengan tegar mengucapkan selamat kepadanya. Obama pun memuji perjuangan McCain dan Sarah Palin sang Timbalan – selama kampanye, dan mengharapkan kerja sama dengan kedua mantan seteru politiknya.

 

“Saya takkan pernah lupa siapa yang layak menikmati kemenangan ini. Ia milik anda semua…” kata Obama.

 

Bunga demokrasi itu indah dan semerbak harum, Kawan.

embun2Pagi begitu mempesona, kawan. Sempatkanlah menikmati hangatnya matahari, menyepuh titik – titik embun di pucuk dedaunan. Menjadikannya kilauan – kilauan mutiara, diantara hijau rerumputan. Yah, setetes embun itu begitu eloknya.

Para penyair menyebutnya air mata mentari, dalam agama Islam digolongkan sebagai air yang syah digunakan untuk bersuci, para orang tua dulu menjadikannya sahabat bagi anak kecil yang belajar melangkahi bumi, para peneliti menyebutnya sari pati air yang murni, dan selaksa rupa digjaya yang dihembuskan oleh air embun.

Nikmatilah eloknya pagi, kawan. Singkirkan selimut yang begitu melumpuhkan daya hidupmu. Jadilah embun yang berkilauan di pagi hari, walaupun setetes tapi memancarkan selaksa digjaya.

pathway0211Kawan, andai kau terdampar pada suatu waktu yang ganjil, terasing dan sunyi, saya akan menuntunmu. Melangkah pelan menyusuri jalan setapak ini, yang ditumbuhi bunga ilalang liar di kanan kirinya. Sambil menikmati semilir angin yang lirih membelai-belai ujung rambutmu.

Mungkin langkahku, tak menyingkirkan dekapan keganjilan yang menggayutimu. Tapi, saya akan menemanimu menikmati bunga ilalang liar itu, melihatnya menari meliuk – liuk bersama lambaian angin. Indah di bawah bentangan langit yang masih membiru.

Kawan, semilir angin itu begitu lembut menyapamu.

Blog Stats

  • 26,430 hits

Arsip