baraMasih ada kerlip cahaya terpantik dari sepekat apa pun, hitamnya jalan hidup kita, kawan. Kita bisa mencarinya diantara tumpukan masalah yang bertimbun – timbun, berkarat. Entah itu bernama asa, tekad, semangat, harapan, bahkan mimpi dan angan – angan.

Jangan bunuh kerlip itu kawan, suatu saat akan kau perlukan. Dan akan menjadi kobaran nyala yang terang benderang bila kita temukan bahan bakarnya.

Jaga terus kerlip itu, walaupun dari sisa – sisa bara.

TONGGAK KEBANGKITAN NASIONAL DI ANTARA PUSARAN GLOBALISASI

Oleh Nuradi

 ( Pegawai Kantor Pelayanan Pajak Madya Batam, pemerhati masalah sosial )

 

Berikan aku 10 orang pemuda, maka aku goncangkan dunia

 ( Soekarno )

 

Pengantar

 

Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA ( School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) , Boedi Oetomo lahir. Inilah organisasi pergerakan pertama yang menggugah kesadaran martabat berbangsa. Budi Utomo lahir di antara kungkungan Regeerings Reglement pasal 111, peraturan pemerintah kolonial yang melarang didirikannya perkumpulan politik atau perkumpulan yang dianggap bisa mengganggu ketentraman umum.

Taktik yang digunakan guna menerobos peraturan itu adalah dengan mencantumkan tujuan organisasinya pada segi sosial budaya. Jadi, mereka berusaha menghindari pembicaraan yang menyangkut hal-hal yang bersifat politis.

Walaupun ruang lingkup organisasi ini lebih menekankan terhadap kemajuan di Jawa dan Madura, namun mampu memberi lompatan inspirasi bagi tumbuhnya organisasi bumi putera lainnya. Inilah kiranya yang dapat dipandang sebagai bangunnya pergerakan bumiputera di Hindia Belanda. Dengan kata lain, timbul semangat dan tekad untuk maju dalam jiwa bumiputera,  tonggak Hari Kebangkitan Nasional.

Seabad berlalu, dan kini menginjak 20 Mei 2008, sejauh manakah implementasi semangat dan tekad untuk maju dalam jiwa bumiputera? Semangat berjuang untuk mengambil prakarsa kemajuan, menolong rakyatnya memperbaiki nasib.

 

Saat ini, peran pemuda dan organisasi kepemudaan sangat strategis. Dari sudut jumlah, data statistik terakhir menunjukkan bahwa sekitar 40 persen jumlah penduduk Indonesia adalah usia 18-35 tahun. Dengan potensi yang sangat besar itu, seharusnya menjadi modal yang efektif untuk menjadi kendaraan nurani rakyat dalam melakukan lompatan semangat untuk menuju cita – cita bangsa. Kalau cita – cita pada jaman kolonial, kita berusaha melepaskan dari kungkungan penjajah dan merebut kemerdekaan, jaman sekarang adalah mengisi kemerdekaan tersebut dan tidak terjebak dalam pusaran neo-kolonialisasi dalam bentuk penjajahan ide, komsumerisme, materialisme dan denasionalisme. Setiap jaman berinteraksi menghadapi tantangannya masing – masing.

 

Eksistensi Kebangkitan Nasional dalam Globalisasi

Arus globalisasi memang tidak bisa kita bendung, karena berjalan seiring dengan modernisasi. Jaman bergerak menuju titik temu adaptatif, interaktif, dinamis dan tidak stagnan. Justru kalau kita mengingkari interaktif jaman, kita gagap dan terjebak dalam keterasingan. Ketika jaman batu, orang harus menggosokan batu untuk membuat percikan api, tentu kita tidak harus membuat api dengan batu sementara korek api berserakan sekarang ini.

Jaman perang kemerdekaan dulu, kita menggunakan bambu runcing untuk melawan musuh, tetapi jaman sekarang memakai bambu runcing untuk melawan rudal yang dikendalikan dari jarak ribuan kilometer, adalah hal yang tidak masuk akal.

Ada beberapa hal asimetris lain yang bisa dijadikan contoh bila kita tidak berdialog secara adaptatif dengan jaman.  

 

Beradaptasi dengan jaman, tidak lantas terjebak dalam pusaran westernisasi. Modernisasi adalah hal yang tidak sama dengan westernisasi. Westernisasi sering kita asumsikan dengan hal – hal dan pola negative yang berkaitan dengan negara Barat.

Westernisasi lebih cenderung ke wilayah budaya, sementara modernisasi adalah produk luas dari pola pikir manusia berdialog dengan kemajuan jaman. Harus dipisahkan secara jernih dan cerdas antara gaya Barat dengan modernisasi. Modernisasi tidak sesempit westernisasi.

 

Tetapi, sering kali beberapa bagian dari pemuda kita terjebak dalam menyikapi modernisasi ini. Mereka masih membaurkan hal – hal yang western dengan modernisasi. Padahal western – sekali lagi – lebih cenderung ke wilayah budaya. Kalau kita tidak mengenal budaya suatu negeri, tentu ada hal yang tidak sinkron dalam mengimplementasikannya. Ada pepatah bijak dulu “ lain lubuk, lain ikannya, lain ladang lain belalang, “. Itulah mungkin gambaran yang cocok.

Sehingga produk dari biasnya pembauran persepsi tadi, adalah hura – hura konsumerisme, hedonis, materialis, individualis, lunturnya nilai penghormatan, dan hal – hal lain yang janggal dalam adat ketimuran, seperti Indonesia. Budaya tidak bisa kita paksakan frontal, karena berkaitan dan bersinggungan dengan olah rasa manusia.

 

Sementara modernisasi lebih cenderung ke arah interaksi ilmu pengetahuan, teknologi dan kemajuan berfikir manusia dalam beradaptasi dengan jamannya. Inilah seharusnya yang harus kita sinergikan dalam menghadapi globalisasi.

 

Masalahnya yang dihadapi kaum muda sekarang adalah sempitnya peluang untuk menggenggam ilmu pengetahuan, teknologi untuk menyikapi arus globalisasi tersebut, sementara arus globalisasi begitu derasnya menghanyutkan mereka. Kaum muda yang mengenyam pendidikan baik formal maupun informal sangat sangat minim ( berdasarkan data  terakhir 21 persen pemuda berada di dunia sekolah mulai dari SMA hingga mereka yang sedang mengambil gelar S3, 3 persen pemuda buta huruf dan sisanya mereka yang putus sekolah serta menganggur ). Pendidikan menjadi amat mahal. Sementara harus kita akui, bahwa lokomotif yang membawa perubahan adalah kaum muda yang terpelajar.

Budi Oetomo pun digerakkan oleh beberapa pelajar STOVIA antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman.

 

Kalau kaum muda terpelajar makin terkikis oleh dinamika jaman, maka jangan harapkan lagi bisa menjadi tuan rumah yang terhormat di negeri sendiri. Inilah konsekuensi absolut tantangan globalisasi, siap tidak siap kita harus menghadapinya. Karena batas – batas negara menjadi absurb, arus informasi tidak bisa dicegah, internet, media massa elektronik, membanjiri negeri kita tanpa filter. Inilah penjajahan dalam bentuk jaman sekarang yang harus kita hadapi. Kalau jaman dulu berbentuk kolonialisme secara kasat mata, jaman sekarang globalisasi dalam bentuk maya.

 

Kalau tidak mampu berinteraksi dan menghadapinya, kita hanya akan menjadi penonton kemajuan, sementara bangsa lain dengan leluasa mengendalikan kita. Kekuatan otot tidak akan sebanding bila berdialog dengan kekuatan otak. Bangsa lain bisa mengangkut ribuan ton dalam waktu singkat dengan mesin dan teknologi, sementara kita masih mengandalkan tenaga buruh untuk mengangkut ratusan kilogram dalam waktu yang lama. Kita tidak mau selamanya menjadi bangsa kuli, seperti yang digaungkan oleh Bung Karno, puluhan abad silam.

 

Kemajuan ilmu pengetahuan dan alih teknologi inilah yang harus kaum muda genggam untuk menghadapi gempuran ‘serangan’ globalisasi, bukan bambu runcing lagi, bukan otot lagi. Kalau kita tidak genggam dan kuasai sekarang, sementara bangsa – bangsa di belahan bumi lain sudah berlomba – lomba mengembangkannya, maka sekali lagi kita hanya menjadi penonton kemajuan dan tergerus arus jaman. Dan jangan mengutuki jaman atas kelalaian dan ketertinggalan kita.

Lihatlah sekarang, jarak ruang dan waktu seakan di persempit oleh teknologi. Mengirim surat sudah tidak lama lagi hanya dengan email, saat itu juga dibelahan bumi yang lain bisa membacanya. Tanpa perangko dan amplop. Berdialog dengan jarak yang sangat jauh bisa dijembatani dengan alat komunikasi yang semakin hari semakin canggih. Banyak hal lain bisa kita rasakan sekarang menyempitnya ruang dan waktu oleh transformasi teknologi.

 

Kaum muda harus membaca dan berinteraksi dengan kemajuan ini, meninggalkan cara – cara primitive yang masih mengagungkan kekuatan otot sebagai solusi. Jaman semakin bergerak maju ke depan, dan bukan surut ke belakang.

 

Lapangan kerja masa depan akan dikendalikan oleh kekuatan otak dan fikiran, dan menyisihkan kekuatan lain. Kekayaan alam negeri ini membutuhkan tangan – tangan intelektual anak negeri mengolahnya untuk kemajuan dan kemakmuran, bukan digadaikan kepada bangsa lain yang hanya akan mengeruk keuntungan dan menyisakan ampas dan limbahnya kepada kita.

 

Implementasi Kebangkitan Nasional saat ini adalah menyikapi globalisasi untuk kemajuan dalam menguatkan martabat bangsa, sehingga kita tidak terjajah oleh globalisasi itu sendiri. Negara Indonesia harus mampu mensejajarkan diri dengan negara-negara lain dan  menjadi tuan rumah yang bermartabat di negeri sendiri.

 

Posisi Tawar Politik Kaum Muda

Selain bersinergi dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan kemajuan berfikir, mengingat sekitar 80 juta atau hampir 40 persen jumlah penduduk Indonesia adalah usia 18-35 tahun, maka kaum pemuda adalah kendaraan yang paling kuat untuk menuju cita – cita bangsa.

Karena perubahan jaman, sering kali di pelopori dan dibidani oleh pergerakan kaum muda. Dr. Soetomo, Ir. Soekarno, Bung Hatta, Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dan lain – lain.

 

Mengingat potensi yang kuat ini, seharusnya kaum muda menjadi posisi tawar yang tinggi dan strategis bagi kepentingan nasional. Posisi yang ditempati, jelas memihak kepada bangsa, tidak mudah tergoda dan dirayu oleh kepentingan sesaat dan terkotak – kotak oleh kepentingan yang lebih sempit. Seperti lahirnya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 yang menegaskan pentingnya arti persatuan dan kesatuan. Inilah manifestasi dari perjuangan nasionalisme, mengedepankan kepentingan bangsa di antara kepentingan lain.

 

Dalam bukunya, Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistence, 1944-1946, terbitan Cornell University Press, 1972, dalam edisi bahasa Indonesianya, Revolusi Pemuda terbitan Sinar Harapan, 1988, Ben Anderson menguraikan, “Organisasi-organisasi pemuda yang terbentuk di masa pendudukan adalah hasil dari situasi krisis. Lembaga itu bukanlah sebuah jejak untuk menapaki karir atau bagian dari proses siklus kehidupan. Organisasi-organisasi itu diciptakan bagi satu momen sejarah ke depan, yaitu sejarah terbentuknya sebuah bangsa”.

 

Jumlahnya yang mencapai 40 persen dari penduduk Indonesia menjadi incaran menggiurkan berbagai pihak untuk kepentingan politik. Karena itu, partai politik berlomba – lomba  merayu dengan mendirikan organisasi kepemudaan. Dan itu sah – sah saja, dalam negara yang berasaskan demokrasi. Jaman dulu pun, setelah lahirnya Boedi Oetomo banyak berdiri organisasi pergerakan perjuangan lainnya, seperti Serikat Islam, Indiche Partij, Partai Nasional Indonesia dan lain sebagainya.

Namun jaman itu organisasi bukanlah sebuah jejak untuk menapaki karir seperti di uraikan Ben Anderson di atas, melainkan diciptakan bagi satu momen sejarah ke depan, yaitu sejarah terbentuknya sebuah bangsa.

Semangat “membentuk sebuah bangsa” inilah, seharusnya yang menjadi landasan semangat dalam menggerakan organisasi kepemudaan, bukan semangat “sebuah jejak untuk menapaki karir’ sehingga terjebak dalam kepentingan sempit dan membuang jauh – jauh semangat nasionalisme.

 

Organisasi kepemudaan seharusnya menyatu dengan perjuangan bangsa dan rakyat Indonesia, menjadi garda terdepan dalam menghadapi globalisasi dengan semangat kemajuan. Jangan terjebak di tengah pusaran politik kapitalisme, sehingga tidak diaktualisasi secara optimal oleh pemuda – pemudi  ketika mereka berinteraksi dengan kekuasaan dan kelompok-kelompok kepentingan politik.

 

Semangat perjuangan tidak terdegradasi, dengan ditumpangi banyak “ide realisme dan pragmatisme” yang meluluh lantakan idealisme. Sehingga membuat kaum muda tergiring ke dalam dunia konsumerisme dan materialisme. Akibatnya, eksistensi peran dan fungsi pemuda sangat rapuh, terperangkap untuk mengusung isu-isu yang tidak populer dan kemudian cenderung mudah diprovokasi kepentingan jangka pendek, dan masuk dalam lingkaran kekerasan. Kembali mengagungkan kekuatan otot dan unjuk adigung fisik, kemudian gagap dalam interaksi dengan kemajuan teknologi dan sunyi berdialektika dengan intelektualitas.

Selama kekuatan otot dikedepankan dan kekuatan otak ditepikan, kita hanya bisa jadi kuli di negeri sendiri, memupus cita – cita Bung Karno.   

 

Organisasi pemuda jangan direduksi dari sekadar jembatan politik bagi pemuda untuk masuk dalam jaringan elit penyelenggaraan negara, karena organisasi kepemudaan merupakan sarana perjuangan yang strategis sebagaimana yang dilakukan oleh para pemuda tempo doeloe.

 

Seabad kebangkitan nasional ini, semoga menjadi tonggak dalam meneguhkan identitas nasionalisme di antara derasnya arus globalisasi, dengan semangat kemajuan sehingga kita bisa menjadi negara yang bermartabat, menjadi tuan rumah yang terhormat di negeri sendiri dan berdiri sejajar dengan negara – negara lain, seperti yang dicita – citakan para pendiri bangsa dulu.

 

***