Kawan, aku cuplik berita ini dari http://regional.kompas.com

Sejumlah partai politik di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menolak menandatangani kesepakatan kampanye damai. Mereka beralasan, masih banyak partai yang datang dengan massa besar melebihi jumlah yang disepakati, 10 sepeda motor dan dua mobil, pada hari pertama rapat umum hari ini.

Kalau sebuah partai, tidak bisa mengendalikan massa-nya, bagaimana mau mengendalikan negeri ini?

Atau peristiwa ini :
Pada saat penandatanganan deklarasi kampanye damai yang dilakukan oleh pimpinan parpol di atas panggung di Hall D2 kompleks Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran, Jakarta, siang Senin, 16/3/2009, massa berbagai partai yang hadir dalam deklarasi ini merangsek ke atas panggung sambil mengibar-ngibarkan bendera partai dan meneriakkan yel-yelnya.

Di mana wibawa pemimpin partai yang bermimpi memimpin negeri ini?
Bangunlah dulu parpol yang santun dan beretika, sebelum bermimpi membangun negeri ini.

Iklan

Fattah Abyasa,
Hari ini genap 2 tahun engkau menikmati sinar mentari yang hangat, menguapkan tetesan embun dipucuk pohon salam, mengenal kicau burung yang hinggap di dahannya, melihat pesona warna kupu-kupu yang terbang kesana-kemari bersama teman-temanya.

copy-of-dsc00588Hari ini, 2 tahun engkau pernah merasakan asinnya air laut, lembutnya pasir pantai yang putih, birunya langit yang menggaris ujung lautan, dan awan-awan putih yang memulas cerahnya angkasa. Atau terlelap oleh buaian lembut angin pantai.

Engkau pernah saksikan juga, bulan dan gemintang di malam hari, bertaburan amat indah di pekatnya jagat raya.

Dedaunan hutan yang lebat menghijau, bukit-bukit yang menyendiri kesepian.
Semuanya sudah pernah engkau nikmati hingga hari ini, 2 tahun kehadiranmu.

Semoga semuanya, bisa menjadikanmu sadar dan mengerti akan arti kehadiranmu di muka bumi ini. Dan melangkahlah dengan sepenuh jiwa, Nak…

Ficus benjamina,
Itulah nama latin pohon beringin, pohon yang berbatang tegak bulat dengan permukaan kasar, coklat kehitaman dengan akar menggantung dari batang.

Dan inilah sepenggal kisah kenangan tentang pohon yang mempunyai bunga tunggal, menyembul keluar dari ketiak daun berkelopak bentuk corong berwarna kuning kehijauan, sewaktu kecil dulu di kampung halaman.

Dulu, di kampungku ada sebatang pohon beringin tua. Tempat kami teman sepermainan, biasa menghabiskan waktu. Bercanda bersama, main layang-layang, berkelahi, main petak umpet, menggembala kerbau, dan tidur bersama di antara naungan rimbunan daun tunggalnya yang lonjong, hijau, dengan panjang 3 – 6 cm, bertepi rata, letak bersilang berhadapan.

Atau main tembak-tembakan dengan peluru mainan dari buahnya yang bulat kecil, panjang 0.5 – 1 cm.

Waktu seakan berhenti melompat, waktu kami bermain di bawahnya, begitu teduh, adem dan nyaman. Tapi temanku Joko, ketakutan setengah mati kalau ditinggal sendirian di situ, dia bisa terkencing-kencing di celana.
“Bentuknya seram, angker…tempat jin, hantu, dedemit, beranak pinak…” kata Joko ketika itu.

Entah benar entah tidak omongan Joko, yang jelas di kampungku dulu para orang tua juga begitu percaya akan tuah dan keangkeran pohon beringin tua itu. Karena tiap malam Jum’at ada saja orang yang menaruh sesajen dan dupa di bawah pohonnya yang begitu kuat mencengkram tanah dan bebatuan.

Tapi justru, aneka sesajen itu yang menjadi santapan lezat ketika kami bermain-main keesokan harinya. Walaupun dalam hati, kami takut kualat untuk memakan aneka sajen itu.

Hingga suatu saat, pohon renta itu nyaris tumbang diseruduk oleh kerbau gila Katmo, yang sedang berahi dan lepas dari kendali angonan. Untung akar-akarnya yang amat kuat mencengkram tanah, bisa menopang tubuhnya yang rimbun. Hanya kerbau Katmo yang kepalanya berdarah-darah dan sempoyongan, dan setelah itu cacat.

Kami sempat khawatir ketika itu, takut kalau-kalau kami tidak ada lagi tempat berteduh dan bermain. Sedangkan Joko, takut kalau demit-demit penunggu pohon renta itu akan ngamuk, berkeliaran dan menghancurkan kampung kami.

Sampai sekarang, pohon renta itu masih berdiri di kampung kami. Walaupun dengan tubuh agak pincang, condong ke kanan, bekas serudukan kerbau gila si Katmo. Setidaknya, kami masih bisa mengingat semua kenangan itu.

Kenangan yang manis dan pahit. Bercanda bersama, main layang-layang, berkelahi, main petak umpet, menggembala kerbau, dan tidur bersama. Joko juga masih mengingat demit-demit yang masih bercokol dan beranak-pinak di sana.

Seorang pengusaha sukses, menolak mati-matian peraturan yang menaikkan upah minimum buruh.
“Kenaikan upah minimum itu sangat memberatkan kami…” katanya berapi-api, sambil telunjuk tangan kanannya yang dilingkari cincin emas murni bertahtakan batu merah delima berharga ratusan juta rupiah, menunjuk udara.
“Kalau upah buruh dinaikkan, kita bisa bangkrut…” lanjutnya, sambil tangan kirinya yang bergelang emas puluhan gram, membetulkan letak dasinya yang bermerk terkenal.


Sementara di rumah kontrakan yang sempit berdinding triplek yang sudah lapuk, Sarinah tengah menghangatkan nasi sisa kemarin untuk sarapan paginya dengan sepotong ikan asin dan tempe goreng sebagai bumbu lauknya.


“Kita sedang dilanda krisis global, tolong jangan beratkan pengusaha dengan peraturan-peraturan yang tidak probisnis…” pengusaha sukses itu masih berapi-api, sambil mengencangkan ikat pinggang kulit yang dibelinya waktu plesiran ke Roma, Italia.


Entahlah Kawan…Para buruh, tidak pernah memikirkan krisis global, probisnis, atau segala aturan-aturan yang dia tak mengerti, yang dia pikirkan hanyalah upah yang dia terima dari pabriknya amat tidak sepadan dengan kebutuhan hidup paling minimum sekalipun.


“kalau kita ditekan terus, kita bisa melarikan investasi kita keluar negeri…” ancam sang pengusaha itu masih berapi-api, sambil merapihkan rambutnya yang baru saja digunting di salon terkenal, di sebuah mall megah.


Lihatlah, segala yang menghiasi tubuh sang pengusaha sukses terkenal itu, kalau dinominalkan sudah cukup untuk membiayai hidup Sarinah selama puluhan tahun. Tapi tetap saja, dia menolak mati-matian secuil tambahan upah untuk mencukupi hidup buruhnya, yang telah membuatnya bisa plesir ke Roma, bisa shoping ke Hongkong, bisa makan siang di Dubai, bisa bersin di Hawaii, bisa menanam bangkai ikan arwana di halaman apartemen mewahnya di Singapura.


Yang dituntut para buruh pun bukan plesiran mewah ke Roma seperti boss besarnya, yang dia butuhkan cuma upah yang layak sebagai simpul penyambung hidup supaya tidak putus, bukan untuk  menghiasi hidup dengan kemewahan dan kemegahan.


Tidak bisakah menyisihkan sedikit gaya hidup mewahmu, untuk secuil lauk buruhmu yang layak, Pak Boss?

Seperti layaknya bocah 9 tahun, Mohammad Ponari bermain di bawah guyuran air hujan ketika petir menyambar-nyambar di atasnya. Saat itulah tanpa sengaja dia menemukan batu sebesar kepalan tangan, berwarna kehitaman.

Dan kemudian, sang nasib membawanya bersama sang batu menjadi bocah yang tidak biasa. Rumahnya di dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timar yang biasa sepi mendadak dijejali puluhan ribu pasien yang saling desak mendesak mengantri untuk mendapatkan tuah batu saktinya.

Bahkan, bukan kesembuhan yang didapat dari batu itu malah maut menjemput 4 korban dalam desakan tersebut.

Indonesia pun dibuat geger oleh bocah kelas 3 SD itu. Hampir tiap hari, berita tentang Ponari dan batunya menjadi headline media cetak dan elektronik. Berebut halaman utama dengan berita perseteruan tokoh politik, persaingan calon presiden, pelanggaran kampanye, bencana banjir, longsor dan berita nasional lainnya.

Kalau kita hidup lama dan dengan terbiasa menghirup aroma tidak masuk akal di negeri ini, hal itu bukan merupakan fenomena yang luar biasa. Hampir setiap hari, sepanjang tahun semenjak kita kecil hingga menuju tua, seringkali masyarakat mengagungkan hal-hal yang memang tidak masuk akal itu. Hampir di seluruh pelosok negeri ini, aroma dupa luar nalar itu memasuki rongga-rongga kehidupan kita, dengan aneka wujud yang serupa walau tak sama.

untitled4Mengagungkan keris, mengkeramatkan batu, mendewakan pohon, mengkultuskan seseorang, bahkan mentuahkan – maaf – kotoran kerbau. Itulah budaya yang berkembang di masyarakat kita sejak jaman dahulu kala. Jadi bukan hal yang luar biasa kalau batu Ponari dicari ribuan orang di Indonesia, untuk menyembuhkan segala bentuk penyakit.
Dan jangan tanya kenapa, karena hal tersebut sudah tercium aromanya sejak jaman dulu kala, yang hingga saat ini tidak juga sirna.

Justru yang menjadi fenomena luar biasa, ketika orang di negeri ini bisa menganalisa masalah dengan ketajaman ilmiah dan kecerdasan nalar berdasarkan logika yang masuk akal. Tapi justru, hal yang masuk akal ini sepi peminat bahkan dicampakkan jauh-jauh.

“Males, njelimet, pusing, tidak menarik…” gerutu seseorang sambil berlalu dengan acuhnya.

Tapi coba, dengan hanya mencelupkan sebuah batu aneh ke dalam gelas dan meminumnya, orang akan berbondong-bondong menyerbunya, walau nyawa digadaikannya.

“Simple, tidak perlu mikir dan tidak perlu pusing-pusing…”

Rasanya ada sesuatu yang hilang ketika kita menikmati hidup dengan dinamika irama perkotaan. Sesuatu itu bernama kekerabatan dan kekeluargaan.

Pernahkah engkau merasakannya, Kawan?

salamDulu, ketika kecil hingga remaja hidup di tengah-tengah aroma suasana pedesaan, semua orang yang tinggal di desa kita kenal dan kita anggap sebagai saudara kerabat sendiri. Kemana pun kita bertandang, selalu disambut dengan rasa kekeluargaan yang hangat.
Tidak pernah khawatir, tidak ada sungkan, tidak ada pakewuh, tidak pernah menaruh sak wasangka, bahkan tanpa pamrih.

Kalau pun kita kekurangan sedikit sayur atau penyedap rasa, kita bisa bertamu ke tetangga dengan sedikit trik untuk meminta hal yang kita butuhkan. Dan sebagai imbalannya, kita memberikan semangkok masakan penebus bumbu penyedap rasa yang kita minta tadi. Timbal balik yang amat hangat.

Ketika ada rumah tetangga yang hendak dipugar, tetangga yang lain berduyun-duyun ikut membantu dengan sadarnya. Kadang ia harus meninggalkan pekerjaan pokok di sawahnya, hanya untuk sekedar mengangkut bata pemugaran rumah tersebut. Kemudian ketika siang menjelang, mereka beristirahat bersama sambil menikmati semangkuk sayur asem, wedang jahe dan sebatang rokok kretek. Indah penuh kekeluargaan.

Dan semua aroma hangat itu tiba-tiba menguap, ketika kita tinggal di tengah dinamika perkotaan. Entah di mana rasa kekentalan sebagai kerabat itu. Tegur sapa yang hangat antar tetangga, bertandang meminta sedikit garam penyedap rasa, berkumpul dengan suasana yang cair, berbagi rasa persaudaraan, dan segala aroma hangat pedesaan yang amat kita kenal dulu di kampung halaman.

Bahkan kadang kita menaruh curiga dan prasangka yang keruh kepada tetangga samping rumah kita. Cerita hangat pemugaran rumah tetangga itu, sudah tergantikan oleh jasa arsitektur dan lenyap oleh kesibukan masing-masing. Berbagi semangkuk masakan itu, berubah wujud menjadi ajang bisnis katering yang menggiurkan.

Entah kenapa, semua kehangatan bersaudara itu menguap begitu mudahnya. Apakah karena di kota semua penduduknya sudah terbelenggu oleh rutinitas yang kuat, sehingga untuk bertegur sapa dengan tetangga saja kadang terlupa. Apakah karena di kota yang bertahta adalah uang dan materi, sehingga semangkuk sayur rasa persaudaraan itu berganti rupa menjadi bisnis jual beli.

Bukankah langit di kota masih berwarna biru, sama dengan warna langit kita di desa?

Bukankah kita sama-sama berasal dari aroma desa dan berkubang lama dengan rasa kehangatan bersaudara itu, kenapa ketika berinteraksi dengan aroma perkotaan, semua itu seakan lenyap tak berbekas?

Apa memang inilah keharusan hidup sebagai orang kota, sibuk bekerja, mengejar kemajuan, berpacu dengan waktu, efektifitas, efisien, modern dan mencampakkan segala hal yang tidak perlu ?

Tetapi, apakah kekerabatan dan kekeluargaan itu tidak perlu…?

Saya pecinta pagi, Kawan.
Betapa amat indahnya melihat suasana pagi, sambil ditemani kopi manis yang hangat menikmati geliat kehidupan mulai berdenyut. Menyaksikan para pemilik toko membuka gerainya, melihat anak-anak sekolah bergegas menuju ke sekolah, memandang karyawan berjalan menuju ke kantornya, menyaksikan pedang kaki lima membuka lapaknya, petani menuju sawahnya dan segala macam aneka geliat kehidupan.

Suasana pagi tidak bisa tergantikan pesona denyutnya. Seakan alam bernyanyi riang, menyambut kehidupan yang mulai menggeliat bangun. Denting-denting irama pagi selayaknya gamelan yang mengalun, perlahan namun menghanyutkan.

Susah untuk menggantikan pesona suasana pagi, Kawan. Dan amat sulit untuk meninggalkan semua denting irama yang mengalun, mengiringi bangunnya kehidupan itu.

Hari ini, ketika pemilihan umum belum mulai…
Seorang caleg, dari suatu partai bersama – sama warga di suatu kelurahan bergotong – royong memperbaiki jalan yang rusak.

Pagi ini, ketika pemilihan umum belum juga mulai…
Seorang caleg, dari suatu partai membagikan sumbangan kepada puluhan keluarga yang terkena terjangan angin puting beliung

untitled2Siang ini, ketika pemilihan umum sebentar lagi dimulai…
Seorang caleg, dari suatu partai membagikan bahan pokok dan alat-alat tulis kepada ratusan keluarga kurang mampu di suatu desa terpencil di pinggir laut

Andaikan pemilihan umum diselenggarakan tiap saat, alangkah indahnya bagi keluarga yang hidup terpencil dan serba kekurangan, karena saat itu dia bisa menikmati hal-hal istimewa yang jarang dia jumpai dalam hidupnya.
“Ya Tuhan, semoga pemilihan umum ini bisa diselenggarakan setiap saat…” doa ibu miskin itu, sambil membawa bungkusan beras dan bahan pokok lainnya, dari sumbangan seorang caleg yang baik hati dan murah senyum, di hari ini.

Demi profesionalisme, seorang artis rela menanggalkan baju dan mempertontonkan hal pribadinya di depan khalayak, ditonton ribuan orang di bioskop – bioskop, berhari – hari, berbulan – bulan.





Sebegitu kejamkah profesionalisme itu?
Sehingga bisa membunuh rasa malu yang seharusnya disimpan rapat – rapat dan amat terlarang untuk diketahui publik.


54354_uang1Sebegitu mahalkah profesionalisme itu?
Sehingga harga dirinya bisa ditukar murah, dipamerkan ribuan penonton dengan karcis seharga sepuluh ribu rupiah.



Sebegitu agungkah profesionalisme itu?
Sehingga norma kesusilaan, kesopanan, adat kepantasan, dan agama di campakkan jauh – jauh.


Ah, demi profesionalisme… entahlah Kawan, saya belum juga menemukan jawaban atas semua pertanyaan itu.



 

Saya masih tetap yakin dan percaya Kawan, kalau moral dan pendidikan adalah pondasi awal untuk membangun negeri ini. Pendapat saya ini boleh ditentang, boleh dibantah, dan juga boleh diacuhkan. Saya cuma menggunakan sebagian hak saya sesuai UUD 1945 Pasal 28.

Saya lebih menempatkan moral dan pendidikan, di atas sendi pondasi pembangunan lain seperti misalnya penyediaan sembilan bahan pokok, pemenuhan pangan, mengembangkan daya saing produk dalam negeri, pengentasan kemiskinan, dan segudang pendapat lainnya.

Maaf Kawan, boleh kan kalau kita berbeda pendapat ?

150px-gluehbirne_2Mengapa moral dan pendidikan, Kawan? Sebab menurutku, inilah pondasi awal yang harus ditancapkan kuat – kuat, menjadi penopang seluruh dinamika pembangunan negeri ini. Moral yang menuntun kita, menunjukkan hal yang baik dan buruk, hal yang benar dan hal yang menyimpang. Sedangkan pendidikan, adalah panglima kecemerlangan masa depan.

Lihatlah kawan, negeri yang dibangun tidak didasari moral yang baik, semuanya berantakan melindas segala aturan yang ditegaskan. Sekuat apa pun hukum, membatasai kita, mengatur kita, kalau moral disingkirkan bisa diterobos dengan gagah beraninya.

Lihatlah kawan, bagaimana pendidikan bisa menjadikan suatu negeri gilang gemilang? Menciptakan aneka ilmu, teori, rumus, teknologi, yang semuanya bermuara pada kemajuan. Dibandingkan dengan mengandalkan kekuatan otot, kekuatan otak lebih digdaya.

Kalau moral dan pendidikan berkolaborasi dan dibangun dengan kuat, kegemilangan mungkin sudah menunggu kita di depan.

Tidak perlu lagi mengirimkan ribuan tenaga kerja ke luar negeri, yang hanya menjadi cerita sedih yang memilukan. Tidak perlu lagi tenaga – tenaga kuli yang hanya diupah dengan recehan murah.

Andaikan pendidikan tidak didasari moral yang kuat, hanya akan melahirkan penindasan-penindasan baru, kehancuran-kehancuran baru. Begitu pun moral tanpa pendidikan, hanya utopia yang semu. Dan menjadi penonton kemajuan yang abadi.

Ada pendapat yang menomorsatukan pemenuhan bahan pokok, pemenuhan kebutuhan perut yang utama. Itu juga sah – sah saja, tapi kalau pemenuhan kebutuhan perut yang menjadi pokok tujuan, sifatnya hanya jangka pendek. Dan ujung-ujungnya, kembali menciptakan kuli – kuli, pekerja serabutan tanpa landasan pengetahuan, dengan azaz yang penting perut terpenuhi dan kenyang.

Ah, mana mungkin otak bekerja dengan baik, kalau perut kosong keroncongan? Jawabnya : Banyak orang yang sukses, gilang gemilang dari keluarga yang terbelakang, melarat dan papah, dengan bermodalkan ilmu pengetahuan yang cemerlang. Banyak anak – anak pedalaman yang bergelimang kesusahan, tapi berhasil keluar dari kungkungan penderitaan dengan menggunakan kecerdasan ilmu pengetahuan.

Maaf Kawan, ini cuma sekelumit pendapat saya. Saya cuma menggunakan sebagian hak saya yang dijamin UUD 1945 Pasal 28.

Blog Stats

  • 26,621 hits

Arsip