topengKawan, setiap kita pasti punya bayang – bayang dan kenangan. Kenangan itulah pojok introspeksi kita, bercermin sambil tertawa, termenung, tersedu bahkan nista dan marah. Tapi itulah indahnya kenangan kawan, seperti aroma dalam kotak yang akan tercium saat kita membuka kotaknya.

Biarkan dia menjadi aroma harum atau busuk, karena kita tidak ada yang sempurna kawan.

Kotak kenangan itu, kita simpan disini kawan…

Dari Cirebon, kotak kenangan ini saya buka. Dari desaku, sebuah desa disudut Kecamatan Plumbon, kita bisa melihat Gunung Ciremai dengan gagahnya, 3.078 Mdpl seakan mengukuhkan sosoknya. Kegemaranku waktu kecil, menikmati lekuk liku lereng Ciremai yang bergurat – gurat. Disuguhkan dengan awan – awan yang menudungi puncaknya. Sungguh elok kawan.

Itulah kecanduanku menikmati Ciremai, disamping mabuk kepayang menikmati hujan. Hampir setiap rinai yang turun, aku resapi dari balik jendela rumah. Anginnya yang tempias, kadang menerpa – nerpa wajah mengajakku menikmati dinginnya.

Tapi godaan hujan, seringkali aku acuhkan. Takut, ayah akan segera mengultimatum dengan wejangannya sebagai otoritas pemilik prerogratif mengatur keluarga.

hujan2Tapi saya sadar, sikap Ayah itu lebih didasarkan pada landasan kasih sayangnya. Beliau tidak rela kalau anak-anaknya dilanda demam, setelah berpesta pora dengan curahan kandungan asam. Karena dibalik air hujan yang tumpah dari atap langit, ada sifat asam dari karbondioksida. Entah karena mitologi jaman dulu, atau hitung – hitungan ilmiah dari antah berantah, yang jelas saya tidak boleh hujan – hujanan. Larangan ini berlaku bagi saya, kakak saya dan adik – adik saya, tanpa reserve.

Sampai akhirnya larangan itu gugur demi hukum, karena suatu hal yang nanti saya ceritakan.

Itulah sebagian serpihan masa kecilku. Penikmat sejati lekuk lereng Ciremai dan rinai – rinai hujan, selebihnya sama seperti layaknya bocah kecil lainnya, tidak ada yang istimewa tidak ada yang luar biasa. Main kereta kuda, mobil – mobilan, sekolah SD, lari – lari, main bola, mengejar layangan putus, semuanya kecuali main hujan – hujanan.

Masa SD berlalu, Tahun 1989 masuk SMP Negeri 1 Plumbon, sebuah SMP yang cukup favorit di kecamatan kami pada masa itu. Sebuah sekolah yang rindang, dengan ditumbuhi pohon – pohon mahoni sepanjang jalan menuju ke gerbangnya. Sejuk dan damai, inilah hal yang menambah daftar mabuk kepayang dalam titian hidupku. Menyusuri jalannya, menikmatinya sungguh dengan sepeda BMX impian.

Ah, sepeda BMX impian…waktu jamanku melangkah remaja, nama sepeda itu adalah impian kegagahan seorang anak lelaki, seperti seorang Senopati dengan kudanya. Dan dengan sepeda ber-merk BMX , remaja lelaki berkomplot membentuk gank, bergerombol setiap sore memadati jalanan desa, lalu-lalang beratraksi laksana sirkus jalanan. Dari aroma kejantanan yang ditebarkan oleh sebuah sepeda, remaja lelaki bak seorang kandidat pemenang gladiator di atas panggung, di puja – puja puteri-puteri cantik seluruh penjuru desa.

Ah, lupakan sepeda impian itu. Karena dari sana juga sumber segala keributan remaja bermula. Saya mau menikmati jalanan menuju sekolah SMP Negeri 1 Plumbon yang rindang, sejuk dan damai.

Bayangkanlah kawan, di kanan kiriku bediri kokoh pohon – pohon mahoni itu, akarnya mencengkram kuat tepi jalan beraspal. Kebetulan waktu aku kelas satu, kami kebagian jam masuk siang, selepas dzuhur yang terik. Amboi sepoinya kawan. Setelah melewati belaian nan sejuk, gerbang sekolah itu menyambut ku.

SMP menyuguhkan warna dan aroma baru dalam perjalanan hidupku Kawan. Teman dari beraneka kecamatan, sifat, polah dan rupa, padu bercampur mengaduk – aduk awal langkahku menginjak remaja. Bahasa Inggris yang memikatku, seperti pikatan daya pesona anak dara berpita merah. Fisika, Biologi, Geografi, meloncat – loncat indah di otakku, seperti anak kecil yang baru pertama kali bermain lompat tali.

Tiga tahun di SMP Negeri 1 Plumbon, memberikan warna baru, aroma baru, kenangan, sedih manis, dan lambaian kerindangan pohon – pohon mahoni itu. Menggambar kanvas masa remajaku, penuh warna Kawan.

Dan di waktu SMP juga, akhirnya aku bisa menikmati dinginnya air hujan yang tercurah di atasku, impianku dari balik jendela selama ini. Yah, di sore yang gelap kental oleh mendung, di tengah perjalanan pulang, di tengah persawahan yang lengang, air langit itu mengguyur sepanjang perjalananku, membasahi setiap inci tubuhku. Aah, dahaga itu lepas sudah.

anak_usa_hujan-hujananBegini rasanya bermandikan air hujan. Pesta pora itu aku nikmati juga, Kawan! dan hak prerogratif ayahku selaku pengatur rumah tangga dan yang berhak melarang anaknya main hujan – hujanan, gugur sudah.

Dalam kitab hukum adat tak tertulis ayahku, tidak ada secuil kesalahanku kehujanan tanpa sengaja ditengah perjalanan pulang dari sekolah.

Dan besoknya, aku berharap kehujanan lagi di tengah perjalanan pulang dari sekolah nanti…

Seperti angin musim hujan yang berhembus, masa SMP pun mengalirlah. Mengganti lembaran baru, dengan masa penuh gejolak dan reaksi, itulah masa anak putih abu – abu, SMA.

To be continued….

Iklan