Saya hanya seorang pengembara biasa, sepertimu kawan. Memetik angin, menyulam api, tenggelam di samudera, terdampar di rimba raya, merangkai mimpi, memerasnya menjadi seteguk anggur dalam perjalanan.

Cirebon. Awal jeritku, memekakkan dunia. Kemudian, Jakarta, Padang, Sidimpuan, Pekanbaru, Batam, menghiasi slide – slide perjalanan hidupku. Memberikan begitu banyak warna, rupa dan semerbak aroma dalam putaran cakra hidupku.

Alif dan Aby, dua benih penantang dunia, terlahir dari rahim belahan jiwaku.copy-of-dsc00406

Andai tersesat kawan, mampirlah di dangauku walau hanya sekedar meneguk setetes embun dari kebun kecilku.

 

 

Singgah sebentar kawan, mari ku kenalkan dengan dua benih penantang duniaku …

copy-of-ssa40095inilah, sulung penantang duniaku. Panggil saja Alif, dipetik dari sekian deret namanya Dimas Yudhistira Alif Faturrachman. Lahir tanggal 20 Oktober 2002, 8 hari setelah Bali digunjang bom yang durjana itu. Kelahirannya diiringi syahdunya kumandang adzan subuh dan kokok ayam jantan, menyunting sang Fajar, disudut Jalan Kenanga Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara.

Kegemarannya saat ini, merangkai mainan robot dan bersepeda. Tapi jangan paksa dia untuk makan buah-buahan, sayuran dan difoto. 

Apalagi, sisi – sisi lain yang hendak kau singkap dari sulungku ini, Kawan? Dia sama dengan kebanyakan bocah 6 tahun sebayanya. Kadang nakal, kadang sangat bijak, suatu saat baik hati, saat yang lain bandelnya kambuh. Silam dulu, bercita – cita jadi pilot, gara – gara suka main pesawat terbang. Sekarang dia mengidamkan jadi perancang robot, atau pernah sesekali dia bilang mau jadi dokter…?

Entahlah, tempuhlah jalan terbaik yang kau mau, Nak…

 copy-of-dsc00282Berbeda dengan kakaknya, Aby demikian kami membisiknya, lebih ramah dan murah senyum bila bersua dengan kamera dan handycam. Malah terlihat amat antusias dan menikmati. Terlahir pada hari Sabtu, 3 Maret 2007 di antara hiruk pikuk kota Batam, Kepulauan Riau. Saat ini, kegemarannya hanya memberantakkan segala sesuatu yang ia jumpai.

Nama lengkapnya, Ahnaf Hilali Fattah Abyasa. Doyan makan dan pemalu berat, penyuka gambar gajah. Aktingnya sangat jempolan, saat bergaya sebagai korban penembakan….dor, lantas dia terkulai di lantai dengan takzimnya.

Sangat setia sama abangnya, selayaknya Begawan Abyasa yang senantiasa memberikan nasehat kepada Yudhistira.

Pada kedua bocah  penantang dunia inilah, ku titipkan mimpi – mimpi dan harapanku.

Lantas, dimanakah Bunda sang penantang…? Inilah, belahan jiwaku kawan. Dara Mandailing yang ku sunting pada 19 Agustus 2001. Seorang boru Pane, yang lahir dan besar di Sadabuan, sekitar kuburan China di Jalan Merdeka Padangsidimpuan.

copy-of-dsc00324

Bersamanya aku menggembala jiwa – jiwa anakku di padang rumput  cinta penuh pesona, dengan tetesan embun yang membasahi, dan dekapan hangatnya sayang Sang Mentari…

Kami menyaksikan mereka menari – nari, berputar, seluas padang ilalang hati kami…

 

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan fikiranmu
Kerana mereka memiliki fikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka
Kerana jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan cuba menjadikan mereka sepertimu
Kerana hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh.
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur teguh yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

(Dari ‘Cinta, Keindahan, Kesunyian’) Khalil Gibran

Mari kita susuri masa – masa awal kita mengayuh biduk perjalanan ini, Kawan… 

Padang, seputar Agustus 2001

sebuah paviliun kecil dan sederhana, berukuran mirip kotak bujur sangkar 5 X 5 meter, kami pertama kali menetap disana, Kawan. Paviliun ini menempel di rumah induk, Jalan Sawahan I, Terandam Padang, di dekat kantor PLN. Kalau kita gambarkan, mirip huruf L, di depan paviliun banyak ditumbuhi tanaman hias dan batu kali, yang dibelah jalan setapak dari adonan semen.

Pemiliknya seorang nenek, yang ditinggal sendiri oleh anak – anaknya merantau, atau menetap bersama keluarga barunya.

To be continued….